Pura Jurit, Titik Moksa Dang Hyang Dwijendra yang Jadi Bagian Penting Pura Luhur Uluwatu

0
4
Pura Jurit
Area utama mandala Pura Jurit. (ist)

balibercerita.com –
Di balik kemegahan dan kesucian Pura Luhur Uluwatu, terdapat sebuah pura yang menyimpan jejak spiritual penting dalam perjalanan suci Dang Hyang Dwijendra atau Dang Hyang Nirartha. Pura tersebut adalah Pura Jurit, yang terletak di sisi kanan pintu masuk utama kawasan Pura Luhur Uluwatu dan dipercaya sebagai lokasi sang pendeta suci mencapai moksa atau bersatu dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Keberadaan Pura Jurit tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjalanan spiritual Dang Hyang Dwijendra yang datang dari tanah Jawa dan menyebarkan ajaran Hindu di Bali. Secara turun-temurun, masyarakat meyakini bahwa di tempat inilah tubuh beliau menghilang dan memancarkan kilatan cahaya yang melesat ke angkasa sebagai pertanda moksa.

Pangelingsir Puri Jambe Banjar Celagi Gendong Pemecutan, AA Ngurah Rai Iswara menjelaskan bahwa Pura Jurit memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan terakhir Dang Hyang Dwijendra sebelum mencapai moksa. “Pura ini erat kaitannya dengan Ida Batara Sang Hyang Dwijendra. Dalam perjalanan dari Pura Petitenget menuju ke arah selatan, beliau menemukan tempat yang menurut beliau sangat baik untuk melebur diri. Makanya ditemukanlah Jurit ini. Di Pura Jurit inilah beliau moksa,” ujarnya.

Baca Juga:   Pentingnya Membuat Purana atau Riwayat Pura

Menurutnya, salah satu penanda yang hingga kini masih dapat ditemukan adalah keberadaan jukung batu yang terdapat di kawasan pura tersebut. “Itu indikatornya ada jukung di palinggih sebagai buktinya. Setelah moksa baru Ida dilinggihkan di Dalem,” katanya.

AA Ngurah Rai Iswara menambahkan, pangempon Pura Luhur Uluwatu telah diatur dalam awig-awig adat yang melibatkan tiga komponen utama. Pura Dalem diempon oleh Puri Jero Kuta sebagai tempat Ida Batara Sang Hyang Dwijendra berstana saat ini, Pura Jurit diempon oleh Puri Jambe Banjar Celagi Gendong Pemecutan, sedangkan Pura Pererepan yang menjadi tempat Ida Batara Sang Hyang Dwijendra. distanakan setelah pujawali diempon oleh Desa Adat Pecatu.

Baca Juga:   Anom Gumanti dan Graha Wicaksana Hadiri Melaspas di Banjar Pengabetan

“Ketiga elemen ini tidak bisa dilepaskan. Ada kaitan antara Pura Jurit, Dalem, dan Pererepan dalam rangkaian perjalanan spiritual Ida Bhatara Sang Hyang Dwijendra,” jelasnya.

Terkait keberadaan jukung (perahu) batu yang sering dikaitkan dengan sarkofagus, Rai Iswara menyebut kajian ilmiah mengenai hal tersebut lebih tepat dijelaskan oleh para ahli arkeologi. “Jukung itu berupa batu. Kalau dikaitkan dengan sarkofagus, mungkin lebih tepat dijawab oleh balai arkeologi. Penjelasan mengenai jukung itu juga bisa dicari dalam purana. Informasi yang kami ketahui selama ini merupakan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun,” katanya.

Sementara itu, mengutip informasi dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, di Pura Jurit terdapat sejumlah bangunan suci atau palinggih yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi. Di antaranya candi di atas altar atau tepas yang dikenal sebagai gedong arca. Di dalamnya terdapat arca perwujudan yang dipercaya sebagai representasi Dang Hyang Nirartha.

Baca Juga:   Spirit Persatuan Catur Lawa Menggema di Panyineban Pujawali Pura Catur Lawa Ida Ratu Dukuh Sakti

Selain itu, terdapat gedong sari berbentuk meru tumpang dua sebagai linggih Ratu Bagus Jurit, dua bale tajuk sebagai tempat pengaruman, bale tajuk pemangku, serta sebuah palung batu yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai perahu atau jukung yang dipercaya digunakan Dang Hyang Nirartha saat menuju Bali.

Di kawasan pura juga terdapat tiga arca perwujudan yang diyakini sebagai manifestasi Batara Tri Murti. Keberadaan berbagai peninggalan tersebut semakin menguatkan posisi Pura Jurit sebagai salah satu situs penting dalam sejarah spiritual Dang Hyang Dwijendra di Bali.

Hingga kini, Pura Jurit tetap menjadi tempat yang disucikan umat Hindu sekaligus menjadi pengingat akan perjalanan terakhir Dang Hyang Dwijendra sebelum mencapai moksa, sebuah peristiwa yang diyakini menjadi bagian penting dari sejarah dan kesakralan Pura Luhur Uluwatu. (BC5)