balibercerita.com –
Ombak Pantai Kuta kembali menjadi magnet bagi peselancar dunia. Dalam ajang Surfing Competition Beachwalk Kuta Fest 2026, ratusan surfer dari Indonesia hingga mancanegara seperti Australia, Jepang, dan Tiongkok siap beradu kemampuan menaklukkan gulungan ombak yang telah lama menjadikan Kuta sebagai salah satu destinasi selancar paling ikonik di dunia. Tingginya antusiasme peserta terlihat dari jumlah pendaftar yang terus bertambah menjelang pelaksanaan kompetisi pada 3–5 Juni 2026.
Campaign & Experience Manager Beachwalk Shopping Center, Reksa Hartoyo, mengungkapkan bahwa pihaknya membuka kuota lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya untuk mengakomodasi tingginya minat para peselancar. “Tahun ini kami membuka lima kategori, yaitu open men, open women, longboard men, longboard women, dan junior. Kapasitas peserta kami tingkatkan hingga dua sampai tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu,” ujarnya.
Jika pada penyelenggaraan sebelumnya jumlah peserta berada di kisaran 100 hingga 150 orang, tahun ini panitia menargetkan hingga 300–350 peserta. Hingga saat ini, jumlah pendaftar telah mencapai sekitar 150 orang dan diperkirakan terus bertambah hingga penutupan registrasi.
Menurut Reksa, kompetisi tahun ini tidak hanya menarik perhatian komunitas surfing di Bali, tetapi juga peselancar dari berbagai daerah dan negara. Beberapa pendaftar bahkan berasal dari Australia, Jepang, dan Tiongkok dikenal memiliki komunitas surfing cukup besar. “Bukan hanya dari Bali. Ada peserta dari Jakarta, Australia, Jepang, China, bahkan beberapa negara lainnya. Ini menunjukkan daya tarik Kuta sebagai destinasi surfing masih sangat kuat,” katanya.
Surfing Competition Beachwalk Kuta Fest sendiri memasuki tahun ketiga penyelenggaraan. Menariknya, sejumlah peserta yang pernah mengikuti kompetisi pada tahun-tahun sebelumnya kembali ambil bagian tahun ini. Bahkan beberapa peserta kategori junior tercatat telah mengikuti ajang tersebut secara berulang sejak pertama kali digelar.
“Ada peserta yang sudah ikut sejak beberapa tahun lalu dan sekarang kembali mendaftar. Untuk kategori junior juga ada yang sudah mengikuti kompetisi ini selama tiga tahun berturut-turut,” ungkapnya.
Kompetisi akan berlangsung di kawasan Pantai Kuta, tepatnya di seberang Warung Cuci Mata. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki karakter ombak yang dinilai paling ideal untuk perlombaan. Penentuan lokasi juga dilakukan bersama komunitas surfing lokal yang memahami kondisi lapangan secara detail.
“Kami bekerja sama dengan Halfway dan Uniflox yang memang sangat memahami kondisi ombak di area tersebut. Karena itu lokasi lomba dipilih di sana,” jelas Reksa.
Selain mempertimbangkan kualitas ombak, panitia juga telah melakukan koordinasi terkait penataan area kegiatan serta memperkuat berbagai fasilitas pendukung demi memastikan keamanan dan kenyamanan peserta maupun penonton.
Melalui kompetisi selancar ini, Beachwalk tidak hanya ingin menghadirkan tontonan olahraga yang menarik, tetapi juga mendorong pengembangan sport tourism di Bali. Lebih jauh lagi, festival ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali citra Kuta sebagai ikon pariwisata Pulau Dewata.
“Kami ingin mengingatkan kembali bahwa Kuta pernah menjadi pusat pariwisata Bali yang sangat terkenal. Sekarang banyak wisatawan bergeser ke Seminyak, Canggu, atau Pererenan. Kami ingin Kuta kembali dikenal sebagai ikon Bali,” tegasnya.
Tak hanya mengangkat olahraga selancar, Beachwalk Kuta Fest 2026 juga membawa semangat keberlanjutan lingkungan. Pengunjung diajak mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membawa tumbler pribadi. Untuk mendukung gerakan tersebut, panitia menyediakan dispenser air minum isi ulang di area festival.
Selain itu, sistem pengelolaan sampah juga telah disiapkan dengan pemisahan tempat sampah berdasarkan jenisnya, mulai dari organik, anorganik hingga limbah yang dapat didaur ulang. “Kami berusaha meminimalisir penggunaan botol sekali pakai. Di area festival juga sudah tersedia tempat sampah yang dipisahkan sehingga pengelolaan limbah bisa lebih baik,” katanya.
Dari sisi pariwisata dan ekonomi, Beachwalk optimistis festival ini akan memberikan dampak positif terhadap kunjungan wisatawan ke kawasan Kuta. Berdasarkan pengalaman penyelenggaraan sebelumnya, peningkatan kunjungan tidak hanya terjadi saat acara berlangsung, tetapi juga setelah festival berakhir. “Biasanya setelah event selesai justru dampaknya lebih terasa. Kunjungan bisa meningkat sekitar 30 hingga 50 persen dibandingkan kondisi normal,” ujar Reksa.
Ia menambahkan, kondisi nilai tukar rupiah saat ini juga berpotensi menjadi keuntungan bagi wisatawan mancanegara karena daya beli mereka menjadi lebih kuat saat berwisata dan berbelanja di Bali. Dengan target ratusan peserta dari berbagai negara, Beachwalk Kuta Fest 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi selancar bergengsi, tetapi juga momentum untuk mengembalikan Kuta sebagai rumah bagi para peselancar dunia sekaligus salah satu wajah utama pariwisata Bali. (BC5)















