balibercerita.com –
Di tengah hiruk-pikuk kawasan wisata Kuta, berdiri tenang sebuah tempat ibadah tua yang menyimpan kisah panjang lintas zaman. Vihara Dharmayana Kuta bukan sekadar tempat sembahyang umat Buddha dan Konghucu, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah hubungan budaya Tionghoa dan kerajaan-kerajaan Bali sejak ratusan tahun silam.
Ketua Pengurus Vihara Dharmayana Kuta, Adi Dharmaja Kusuma menuturkan, keberadaan Vihara Dharmayana Kuta diyakini sudah ada sejak tahun 1700-an. Cerita itu bermula dari penelitian seorang dokter asal Jepang yang tengah menempuh pendidikan doktoral di Universitas Indonesia. Dalam penelusurannya mengenai jejak masyarakat Tionghoa di Nusantara, ditemukan fakta bahwa pada abad ke-18, tempat ibadah tersebut telah berdiri di Kuta. “Dari penelitian itu diketahui bahwa pada tahun 1700 sudah ada tempat ibadah ini,” tutur Adi Dharmaja.
Namun sejarah vihara itu rupanya tidak berdiri sendiri. Ada benang merah yang menghubungkannya dengan kejayaan Kerajaan Mengwi dan kemegahan Pura Taman Ayun yang kini dikenal sebagai salah satu warisan budaya Bali.
Adi Dharmaja menceritakan, sosok yang dihormati di vihara tersebut diyakini memiliki keterkaitan dengan arsitek pembangunan Taman Ayun. Sang arsitek kala itu disebut didampingi dua mahapatih Kerajaan Mengwi, yakni Dane Ratu Ida Bagus Denkayu dan I Gusti Ngurah Kubu.
Rasa penasaran terhadap kisah turun-temurun itu membawanya menghadap keluarga Kerajaan Mengwi pada 23 Februari 2023. Di sana, ia meminta penegasan langsung mengenai cerita yang selama ini diwariskan para tetua vihara. “Saya bertanya kepada Dane Cokorda, apakah benar kisah yang saya terima dari para ketua terdahulu. Beliau mengatakan memang benar,” ujarnya.
Dari penuturan keluarga puri, diketahui bahwa pada masa Raja Mengwi I, kerajaan saat itu memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas, mulai dari Panji di Buleleng hingga Blambangan di ujung timur Jawa.
Di Blambangan itulah, konon terdapat seorang arsitek hebat yang namanya masyhur karena kemampuannya membangun kawasan suci dan istana. Mendengar kepiawaiannya, Raja Mengwi kemudian memanggilnya ke Bali untuk merancang Taman Ayun. “Karena didengar di Blambangan ada seorang arsitek yang sangat mumpuni, maka dipanggillah beliau untuk membuat Taman Ayun,” katanya.
Kisah tentang sosok yang dihormati umat vihara itu kembali menguat saat Adi Dharmaja mengunjungi Puri Gede Abiansemal pada 8 Mei 2026 lalu. Di puri tersebut, ia kembali mendengar cerita tentang Engkong Tang Cho Ching, tokoh yang disebut sangat dihormati dan diyakini memiliki kesaktian luar biasa pada zamannya. “Beliau mengatakan rajanya sangat sakti, dan Encik ini juga sakti sekali,” ucapnya.
Jejak penghormatan terhadap tokoh tersebut bahkan disebut masih dapat ditemukan di kawasan Taman Ayun, tempat berdirinya altar pemujaan bagi Engkong Tang Cho Ching. Di balik kisah sejarah yang panjang itu, keberadaan Vihara Dharmayana Kuta hingga kini tetap terjaga.
Adi Dharmaja menyebut, perhatian Pemerintah Kabupaten Badung menjadi salah satu alasan vihara tersebut terus berkembang. Menurutnya, dukungan pemerintah tidak hanya diberikan kepada umat Hindu, tetapi juga seluruh umat beragama di Badung, termasuk umat Buddha. Gedung vihara yang kini berdiri megah pun merupakan hibah dari Pemkab Badung yang difasilitasi oleh I Gusti Anom Gumanti.
Ia mengenang bagaimana kondisi vihara di masa lalu yang masih sangat sederhana. Bahkan beberapa bagian bangunan saat itu belum sempurna. Kini, wajah vihara berubah jauh lebih tertata dengan altar Buddha yang megah dan penuh detail artistik hasil karya para pemahat dari Mas, Ubud. “Sekarang penataannya sudah bagus dan altar Buddha-nya juga sangat luar biasa,” tuturnya.
Di tengah modernisasi Kuta yang terus berkembang, Vihara Dharmayana tetap berdiri sebagai pengingat bahwa Bali sejak dahulu dibangun dari perjumpaan budaya, toleransi, dan penghormatan antarsesama. (BC5)












