The Nusa Dua dan The Mandalika Jadi Andalan Wisata Rendah Karbon, ITDC Perkuat Ruang Terbuka Hijau

0
13
ITDC
Kawasan The Nusa Dua. (ist)

balibercerita.com –
Pengembangan destinasi wisata kini tidak lagi hanya berbicara soal hotel mewah dan pertumbuhan kunjungan wisatawan. InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) mulai mengarahkan pembangunan kawasan pariwisata menuju konsep rendah karbon dan ramah lingkungan melalui penguatan ruang terbuka hijau (RTH) di The Nusa Dua, Bali dan The Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen ITDC dalam menciptakan kawasan wisata berkelanjutan yang mampu menjaga keseimbangan ekosistem di tengah pesatnya pembangunan sektor pariwisata nasional.

Di kawasan The Nusa Dua, ITDC saat ini mengelola RTH seluas sekitar 97 hektare atau 27 persen dari total kawasan. Ribuan vegetasi ditanam untuk menjaga kualitas lingkungan sekaligus memperkuat daya serap karbon kawasan wisata internasional tersebut. Tercatat lebih dari 5.700 pohon dari 138 jenis vegetasi tumbuh di kawasan itu, termasuk puluhan jenis pohon lokal dan endemik yang berfungsi menjaga kualitas udara, menurunkan suhu kawasan, hingga menjadi paru-paru destinasi wisata.

Baca Juga:   Viral Lahan Dekat Akses Pantai Balangan Dipagari, Begini Fakta Sebenarnya

Tidak hanya menghadirkan ruang hijau, The Nusa Dua juga menerapkan sistem pengelolaan lingkungan berkelanjutan melalui lagoon pengolahan air limbah yang telah berjalan sejak 1979. Sistem ini mampu mengolah hingga 10 ribu meter kubik air limbah per hari untuk digunakan kembali sebagai irigasi kawasan hijau.

Berdasarkan kajian terbaru, kawasan The Nusa Dua memiliki total serapan karbon mencapai 16.279,57 ton karbon. Angka tersebut menunjukkan kemampuan vegetasi kawasan dalam menyerap emisi sekaligus mendukung upaya dekarbonisasi sektor pariwisata.

Baca Juga:   Lolot Harapkan Singaraja Fest Digelar Tiap Tahun

Sementara itu, pengembangan wisata hijau juga terus diperkuat di The Mandalika. Dari total kawasan seluas 1.175 hektare, sekitar 30 persen dialokasikan sebagai ruang terbuka hijau.

Sebagai bagian dari rehabilitasi lingkungan, sepanjang 2025 ITDC telah menanam lebih dari 10.400 pohon di kawasan tersebut. Program penghijauan itu akan dilanjutkan pada 2026 dengan penanaman 15 ribu pohon mangrove di kawasan pesisir. Penanaman mangrove dinilai penting sebagai perlindungan alami terhadap abrasi sekaligus menjaga kualitas habitat pesisir di kawasan pariwisata super prioritas tersebut.

Direktur Komersial & Marketing ITDC, Febrina Mediana mengatakan, penguatan ruang hijau tidak hanya bertujuan mempercantik kawasan wisata, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menciptakan destinasi yang sehat, nyaman, dan tangguh menghadapi perubahan iklim. “Melalui pengembangan pengalaman wisata berbasis alam seperti aktivitas outdoor, wellness, dan rekreasi di kawasan pesisir, RTH menjadi bagian penting dalam mendorong gaya hidup sehat sekaligus memperkuat koneksi manusia dengan alam,” ujarnya.

Baca Juga:   Pembongkaran Usaha Ilegal di Pantai Bingin Tak Pengaruhi Kunjungan Wisatawan

Menurut Febrina, integrasi prinsip ESG (environmental, social and governance) menjadi landasan utama ITDC dalam membangun kawasan wisata berkelanjutan dan rendah karbon di Indonesia. “RTH menjadi infrastruktur hijau strategis yang tidak hanya memperkuat daya saing destinasi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim,” tutupnya. (BC5)