Tradisi Mekotek di Munggu Kembali Digelar, Masyarakat Kini Dilarang Menaiki Kayu Pulet

0
94
Mekotek
Pelaksanaan tradisi mekotek di Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Sabtu (29/11). (BC9)

balibercerita.com –
Desa Adat Munggu di Kecamatan Mengwi kembali melaksanakan tradisi mekotek pada Sabtu (29/11), bertepatan dengan hari raya Kuningan. Seluruh krama turut ambil bagian dalam tradisi yang dipercaya sebagai penolak bala tersebut. Mekotek yang awalnya digelar sebagai perayaan kemenangan Kerajaan Mengwi dalam perang di Blambangan, hingga kini masih dijalankan secara turun-temurun.

Namun, berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, masyarakat kini dilarang menaiki kayu pulet yang disatukan. Larangan tersebut diterapkan karena dinilai tidak memiliki makna dalam tradisi sekaligus untuk mencegah terjadinya insiden. Meski demikian, antusiasme warga dalam mengikuti mekotek tetap tinggi.

Baca Juga:   Tirta Padma Wangi di Pura Narmada, Dipercaya Berkhasiat Pengobatan dan Awet Muda

Bendesa Adat Munggu, I Made Suwinda menjelaskan bahwa ini bukan sekadar ritual, tetapi simbol kemenangan dalam mempertahankan wilayah Blambangan. Tradisi ini digelar setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon Kuningan.

“Makna tersendiri memang tradisi mekotek itu sebagai penolak bala, kalau kami tidak melaksanakan mekotek niscaya akan terkena kegeringan atau grubug lebih parah daripada Covid-19,” ujar Suwinda.

Baca Juga:   Vihara Dharmayana Kuta Bersiap Sambut Tahun Baru Imlek 2573

Ia menambahkan, tradisi ini sempat dilarang oleh tentara Belanda karena dianggap sebagai bentuk perlawanan. Namun setelah tradisi dihentikan, justru muncul wabah penyakit yang melanda masyarakat setempat. “Memang pernah diberhentikan karena dikatakan kami akan menyerang, tetapi ada suatu wabah penyakit,” ungkapnya.

Terkait pelaksanaannya, Suwinda mengatakan bahwa rangkaian tradisi masih sama seperti sebelumnya. Hanya saja kini diterapkan larangan bagi warga untuk menaiki kayu pulet saat disatukan, mengingat pernah terjadi insiden yang menyebabkan warga terluka.

Baca Juga:   Puncak Karya Ngeratep Tapakan di Pura Dalem Meranggi Sibang Kaja

“Dari segi sejarah itu tidak ada gunanya. Memang kami larang sekarang agar tidak mencederai tradisi mekotek tersebut,” terangnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa produk budaya ini digelar untuk memperkuat kebersamaan antarwarga dan meningkatkan rasa persatuan antarpura dan banjar. “Kami mengimbau agar seluruh masyarakat dapat mengikuti tradisi-tradisi di Desa Adat Munggu, khususnya mekotek. Harapannya tradisi mekotek ini semoga ajeg ke depannya,” imbuhnya. (BC9)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini