Mangupura, balibercerita.com –
Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, mulai mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung. Mereka telah memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Karisma yang menjadi harapan kemandirian mengelola sampah mereka sendiri. TPST Karisma menjadi langkah awal menuju lingkungan yang lebih bersih, dan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Made Nuada Arsana, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Ungasan, menceritakan bahwa TPST Karisma bukan sekadar bangunan pengolahan sampah. Ia adalah wujud nyata upaya mandiri masyarakat dan pemerintah desa untuk mengambil alih kendali terhadap sampah mereka sendiri. Dengan kemampuan mengolah sekitar 10 hingga 12 ton sampah per hari, fasilitas ini telah mengurangi beban pengiriman ke TPS Suwung secara signifikan.
Saat ini TPST Karisma dikelola oleh kelompok yang dibentuk khusus oleh desa, yaitu KPP Cipta Ungasan Bersih. Meski saat ini operasionalnya masih bergantung pada dana desa, Nuada yakin ke depannya mereka bisa mendapat dukungan lebih besar dari pemerintah kabupaten untuk meningkatkan kapasitas.
“Sebenarnya sampah yang kami hasilkan bisa mencapai 50 ton per hari. Kami baru bisa tangani sekitar seperlimanya. Artinya, kami butuh tambahan alat. mungkin tiga atau empat incinerator lagi agar benar-benar bisa mandiri,” ujarnya.
Pembangunan TPST ini dimulai pada pertengahan 2024 dan rampung akhir tahun. Lokasinya berada di Jalan Goa Gong, Banjar Santhi Karya, di atas lahan seluas 20 are milik Desa Adat Ungasan. Dana pembangunan gedung mencapai lebih dari Rp1 miliar, ditambah satu mesin incinerator seharga Rp1,5 miliar yang kini menjadi tumpuan utama pengolahan.
Di tempat ini, sampah yang datang dari warga terlebih dulu dipilah. Sampah organik diujicobakan menjadi kompos, sementara limbah plastik dan jenis non-daur ulang lainnya dibakar dengan teknologi incinerator rendah emisi. Meski sempat ada kekhawatiran tentang dampak lingkungan, hingga kini belum ditemukan masalah berarti.
Bau tak sedap pun jarang muncul, selama proses pengelolaan berjalan lancar. “Kami pastikan sampah tidak menumpuk. Setiap hari kami pantau langsung pengelolaannya,” tambah Nuada dengan nada meyakinkan.
Sebanyak 22 petugas kini bekerja di TPST Karisma, bertugas mengangkut dan mengolah sampah dari rumah-rumah warga. Namun, layanan ini belum mencakup seluruh wilayah desa. Masih ada batasan, terutama karena keterbatasan sarana dan prasarana. Masyarakat yang ingin ikut serta dalam layanan ini dikenai iuran yakni untuk rumah tangga mulai dari Rp 50 ribu per bulan dan lebih tinggi untuk restoran atau hotel. (BC5)
















