balibercerita.com –
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim sampah kiriman yang rutin terjadi setiap awal tahun. Sejak November 2025, potensi sampah kiriman yang menepi di pesisir Badung telah diantisipasi dengan pengerahan personel dan peralatan secara masif di seluruh kawasan pantai.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLHK Badung, Made Rai Warastuthi mengatakan bahwa intensitas sampah kiriman meningkat signifikan pada pertengahan Januari, seiring kondisi pasang air laut yang tinggi. Puncak sampah kiriman terjadi pada Minggu (18/1), yang diduga kuat dipengaruhi fase tilem sehingga menyebabkan pasang laut lebih tinggi dari biasanya. Meski demikian, DLHK memastikan penanganan dilakukan secara cepat dan merata di seluruh wilayah pesisir Badung.
“Musim sampah kiriman memang sudah kami antisipasi sejak awal. Puncaknya kemarin, kemungkinan besar dipengaruhi tilem yang menyebabkan pasang laut tinggi,” ujar Rai Warastuthi.
Untuk mempercepat penanganan, DLHK Badung mengerahkan sekitar 60 unit truk pengangkut sampah yang beroperasi setiap hari. Dari sisi peralatan, sebanyak 11 unit loader diturunkan di berbagai titik pantai, baik unit reguler maupun alat berat sewaan. Selain itu, excavator disiagakan di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau, serta dua unit crane digunakan untuk mengevakuasi sampah berukuran besar.
Sekitar 800 personel kebersihan diterjunkan menyisir seluruh garis pantai Badung, mulai dari Pantai Cemagi di wilayah utara hingga pesisir selatan. Sebagian besar personel merupakan petugas penyapuan jalan yang menjalankan tugas ganda setiap hari. Mereka menyapu jalan pada pagi hari, dilanjutkan kerja bakti pembersihan pantai, kemudian kembali melaksanakan tugas penyapuan pada sore hari. “Kami atur pola kerja agar kebersihan tetap terjaga, baik di jalan maupun di pesisir. Total sekitar 800 orang dan semuanya kami sebar,” jelasnya.
Khusus di kawasan Pantai Kuta, penanganan sampah kiriman juga mendapat dukungan dari unsur TNI yang turut membantu proses pembersihan di lapangan. Di sisi lain, pola sebaran sampah kiriman di pesisir Pantai Barat Badung mengalami pergeseran. Pantai Jerman, yang selama ini relatif minim sampah kiriman, kini justru terdampak cukup parah. Kondisi tumpukan sampah di kawasan tersebut hampir setara dengan yang terjadi di Pantai Kuta. Rai Warastuthi menyebut kejadian kali ini tergolong tidak biasa bagi Pantai Jerman.
Berdasarkan perhitungan sementara, volume sampah yang berhasil dikumpulkan di Pantai Jerman diperkirakan mencapai 80 hingga 100 truk. Dengan asumsi satu truk mengangkut sekitar dua ton sampah, total volume sampah di kawasan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 200 ton. “Iya, saat ini Pantai Jerman juga kedatangan sampah. Lumayan tebal, hampir sama dengan di Kuta ke utara sampai setengah Pantai Legian. Biasanya Pantai Jerman tidak terlalu tebal, kali ini tumben seperti itu,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, sampah kiriman yang mendominasi di Pantai Jerman berupa material berukuran besar seperti kayu gelondongan, bambu, hingga akar pohon. Sementara itu, volume sampah plastik relatif lebih sedikit dibandingkan material kayu. “Karena kayunya besar-besar, volumenya memang tinggi,” tambahnya.
Terkait penyebab menumpuknya sampah kiriman di Pantai Jerman, DLHK Badung menduga kuat pengaruh arus laut dan angin barat menjadi faktor utama. Untuk mempercepat proses pembersihan, dua unit alat berat jenis loader telah disiagakan di lokasi sejak beberapa hari terakhir. Namun, proses evakuasi tidak lepas dari kendala, mulai dari keberadaan pipa pengisian pasir hingga gelombang laut yang cukup tinggi.
“Gelombang laut dan pipa pengisian pasir cukup menyulitkan, tapi kami tetap berusaha maksimal. Sejak pagi alat berat sudah di lokasi,” katanya.
Selain Pantai Jerman, penanganan sampah kiriman masih difokuskan di Pantai Kuta. Saat ini, volume sampah yang terangkut dari kawasan selatan Pantai Kuta mencapai sekitar 23 hingga 25 truk per hari, dengan proses pembersihan yang terus bergerak ke arah utara. Kondisi sampah kiriman di Pantai Legian dan Seminyak relatif lebih ringan dibandingkan Pantai Kuta.
Untuk penanganan akhir, seluruh sampah kiriman dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung. Langkah ini diambil karena volume sampah yang sangat besar tidak memungkinkan seluruhnya diproses melalui pencacahan di Pusat Daur Ulang (PDU) Mengwitani. “Volumenya sangat banyak dan tidak memungkinkan kita mencacah lebih cepat. Di PDU Mengwitani tidak cukup, sehingga kami bawa ke TPA Suwung. Kami akan tetap siaga sampai sampah kiriman berhenti,” tegas Rai Warastuthi.
Berdasarkan pola musim, DLHK Badung memprediksi sampah kiriman baru akan berhenti pada sasih keenem hingga sasih kedasa, atau sekitar bulan Maret hingga April mendatang. (BC5)

















