Ruang Udara Timur Tengah Dibatasi, Penerbangan Denpasar–Dubai Baru Dilayani Sehari Sekali

0
13
Ruang udara Timur Tengah
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara I Gusti Ngurah Rai, Nugroho Jati bersama direksi saat pemaparan. (ist)

balibercerita.com –
Kendati penerbangan rute Timur Tengah dari dan menuju Bali mulai kembali dilayani maskapai Emirates pada Kamis (5/3) dan Jumat (6/3) melalui Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, operasional penerbangan menuju kawasan tersebut masih berlangsung terbatas. Saat ini, penerbangan rute Timur Tengah dari Denpasar menuju kawasan tersebut maupun sebaliknya baru dilayani satu kali dalam sehari. Kondisi ini terjadi akibat pembatasan ruang udara di sejumlah wilayah Timur Tengah yang masih diberlakukan oleh otoritas penerbangan setempat.

General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara I Gusti Ngurah Rai, Nugroho Jati menjelaskan, keterbatasan tersebut dipengaruhi kondisi ruang udara di kawasan Timur Tengah yang sebagian masih ditutup.Menurutnya, berdasarkan informasi notice to airmen (notam), ruang udara di kawasan tersebut terbagi menjadi beberapa zona yang mengalami penutupan.

“Kalau kita lihat dari notam, ruang udara di Timur Tengah itu terbagi menjadi beberapa zona yang tutup. Kalau dia tutup, maka tidak ada satupun yang bisa melewati itu, khususnya untuk civil aviation atau penerbangan sipil,” jelasnya pada Minggu (8/3).

Ia mengatakan, penutupan ruang udara tersebut bisa bersifat total maupun terbatas, tergantung pada kebijakan otoritas penerbangan di wilayah yang menerbitkan informasi tersebut. Dengan adanya pembatasan itu, seluruh pengguna ruang udara, khususnya maskapai penerbangan, harus melakukan kalkulasi ulang terhadap operasional mereka. Pasalnya kapasitas penerbangan yang dapat melintasi kawasan tersebut menjadi terbatas.

Baca Juga:   Sekda Adi Arnawa Buka Sosialisasi Barang Milik Daerah Tahun 2024

Nugroho mencontohkan, dalam kondisi normal sebuah maskapai bisa mengoperasikan sekitar 115 penerbangan dalam sehari secara global. Namun ketika kapasitas ruang udara dibatasi, jumlah tersebut bisa turun menjadi sekitar 70 bahkan hanya 50 penerbangan.

“Ini salah satu contoh agar lebih mudah dipahami. Dengan adanya pembatasan ruang udara, maka penerbangan yang bisa masuk ke wilayah tersebut harus bergantian,” ujarnya.

Pembatasan ini berdampak pada berbagai rute penerbangan dari berbagai kawasan dunia, mulai dari Afrika, Eropa Timur, Eropa Barat hingga Asia dan Asia Timur. Akibatnya, maskapai harus melakukan penghitungan ulang terhadap rute yang akan dilayani.

Dalam beberapa kasus, maskapai tetap mengoperasikan penerbangan ke Denpasar, namun pesawat yang datang akan langsung kembali ke negara tujuan tanpa menambah frekuensi penerbangan. Ia menambahkan, pesawat yang sebelumnya berada di Bali juga tidak serta merta diterbangkan jika kondisi ruang udara di tujuan belum memungkinkan.

Baca Juga:   Dua Siswa SMKN 1 Denpasar Siap Tampil Maksimal di Final Olimpiade Jaringan Mikrotik Nasional 2025

“Pesawat yang tadinya diam di sini tidak diterbangkan. Karena percuma juga diterbangkan kalau di sana penuh, atau malah lebih berbahaya. Ketika diterbangkan dan mendarat di sana bisa menjadi risiko terhadap ancaman keamanan maupun keselamatan,” jelasnya.

Dengan kapasitas ruang udara yang dibatasi, otomatis rute yang dapat dilayani maskapai juga menjadi terbatas. Berdasarkan pemantauan pihak bandara, penerbangan Timur Tengah dari dan menuju Denpasar saat ini hanya dilayani satu kali dalam sehari.

Sementara itu, untuk jumlah penumpang yang terdampak pembatalan penerbangan belum dapat diidentifikasi secara akurat. Hal ini karena sebagian penumpang yang penerbangannya dibatalkan memilih beralih ke maskapai lain. “Yang tadinya mau ke Denpasar menggunakan maskapai tersebut bisa beralih menggunakan maskapai lain. Jadi data pastinya kami tidak punya,” kata Nugroho.

Ia menjelaskan, terdapat dua kemungkinan yang terjadi ketika penerbangan dibatalkan. Pertama, maskapai memberikan refund atau penjadwalan ulang sehingga datanya bisa dilacak. Kedua, penumpang membeli tiket baru di maskapai lain, sehingga tidak tercatat dalam sistem maskapai sebelumnya.

Baca Juga:   Tahun 2021, Kemenkumham Bali Catat 194 WNA Dideportasi

Meski demikian, berdasarkan data operasional penerbangan, tercatat sekitar lima penerbangan per hari terdampak pembatalan dalam periode 28 Februari hingga 7 Maret 2026. “Kalau dihitung lima flight per hari dikali tujuh hari, maka kurang lebih ada 35 penerbangan yang terdampak selama seminggu,” jelasnya.

Jika dihitung berdasarkan kapasitas penumpang, jumlah yang terdampak diperkirakan bisa mencapai lebih dari 17 ribu orang. Namun pihak bandara tidak dapat memastikan ke mana para penumpang tersebut beralih. “Tidak bisa kita katakan 17 ribu itu ke mana atau bagaimana penanganannya. Karena yang tadinya menggunakan pesawat A kemudian cancel bisa beralih menggunakan pesawat B dan tetap sampai di Denpasar,” ujarnya.

Hingga Minggu (8/3), pembatalan penerbangan masih terjadi. Nugroho menyebut pada hari tersebut hanya satu penerbangan Emirates yang beroperasi menuju Dubai, sementara satu penerbangan lainnya dibatalkan “Kondisinya memang sangat tergantung pada situasi ruang udara di Timur Tengah atau mungkin kondisi di bandara di sana. Kami tidak tahu pasti karena semuanya merupakan kewenangan otoritas penerbangan di wilayah tersebut,” pungkasnya. (BC5)