balibercerita.com –
Bali bukan hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga dinilai sebagai salah satu wilayah paling menjanjikan untuk pengembangan bisnis hotel, restoran, dan kafe (horeka). Besarnya arus wisatawan membuat sektor ini memiliki potensi ekonomi yang jauh lebih besar, sekaligus menawarkan tingkat pendapatan yang menarik bagi pelaku usaha.
Chairman Bali Tourism Board sekaligus Ketua GIPI Bali, Ida Bagus Agung Partha Adnyana mengatakan, sektor horeka menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Bali. Berdasarkan data yang diterimanya, potensi sektor tersebut mencapai sekitar 245.000 usaha dan berkontribusi kurang lebih 22 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali.
“Hotel, restoran, dan kafe itu potensinya di Bali 245.000 dan ini backbone dari ekonomi Bali sebenarnya, kurang lebih 22 persen ini PDRB kita dari horeka,” ujarnya, Rabu (2/9), di Nusa Dua.
Menurut pria yang akrab disapa Gus Agung ini, daya tarik bisnis horeka di Bali juga terlihat dari besarnya yield atau hasil usaha yang dapat diperoleh. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan Jakarta yang sama-sama memiliki pasar horeka besar.
Berdasarkan data yang diterimanya, yield sektor horeka Bali disebut mencapai sekitar Rp6,8 triliun, sementara Jakarta berada di kisaran Rp5,7 triliun. “Artinya ini mungkin karena pariwisata ya, apalagi juga dolar yang semakin tinggi. Secara yield kita sebenarnya penghasilannya lebih bagus dibandingkan kalau kita buka horeka di tempat lain,” katanya.
Ia juga menyoroti perbandingan omzet usaha restoran. Berdasarkan data yang dimilikinya, omzet rata-rata restoran di Bali hampir dua kali lipat dibandingkan Jakarta. Menariknya, keunggulan Bali tidak hanya dari sisi pendapatan. Biaya operasional rata-rata juga disebut lebih rendah. “Kalau kita buka restoran di Bali ini lebih menguntungkanlah. Secara penghasilan lebih besar, cost-nya lebih kecil,” ujarnya.
Partha Adnyana menambahkan, sekitar 45 persen sektor horeka Bali berada dalam kategori restoran formal. Segmen tersebut mencakup fine dining, kafe artisan, hingga restoran yang menyasar wisatawan. Menurutnya, struktur usaha yang lebih premium tersebut menjadi salah satu faktor yang turut membuka peluang margin keuntungan lebih baik. Namun, besarnya potensi tersebut harus diikuti dengan peningkatan kualitas industri.
Karena itu, ia mendorong agar pengembangan horeka Bali tidak hanya mengejar pertumbuhan jumlah usaha, tetapi juga mengedepankan kualitas, keberlanjutan, autentisitas serta inovasi. Hal tersebut dinilai penting agar keunggulan Bali sebagai destinasi wisata tetap terjaga sekaligus mampu memberikan nilai ekonomi yang semakin besar bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti Bali Interfood yang menghadirkan lebih dari 100 eksibitor dari delapan negara. Pameran tersebut dinilai menjadi ruang strategis untuk mempertemukan pelaku industri lokal dengan teknologi, produk, pengetahuan serta jaringan global. “Saya mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan momentum ini untuk learn, connect, collaborate, and grow,” katanya.
Ia menegaskan, masa depan pariwisata Bali tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, asosiasi, investor dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk menjaga daya saing pariwisata Bali ke depan. “Kami di Bali Tourism Board percaya bahwa masa depan pariwisata Bali dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah, industri, kami asosiasi, investor, dan seluruh stakeholder,” pungkasnya. (BC5)

















