Denpasar, balibercerita.com —
Di tengah geliat musik cadas Indonesia, nama Mom Called Killer (MCK) terus menggema sebagai salah satu band metalcore yang paling konsisten dan berpengaruh dari Pulau Dewata. Berdiri sejak 20 Oktober 2007, MCK lahir dari semangat lima pemuda Denpasar yang memiliki latar belakang musik keras yang berbeda-beda, namun bersatu dalam satu misi: menyuarakan perlawanan dan harapan melalui dentuman musik ekstrem.
Band yang kini digawangi oleh Adith Bantat (vokal), Patra (gitar 1), Ananta (gitar 2), Tanksi (bass), dan Agung (drum) ini dikenal dengan perpaduan solid antara metal dan hardcore, menghasilkan karakter musikal yang kuat dan penuh energi. Nama “Mom Called Killer” dipilih bukan tanpa alasan. Bagi mereka, setiap lagu adalah bentuk ekspresi jiwa yang mampu membakar semangat dan membangkitkan emosi pendengarnya.
Musik MCK banyak dipengaruhi oleh band-band besar seperti As I Lay Dying, Unearth, Chimaira, Cavalera Conspiracy, Madball, Sepultura, Death Before Dishonor, hingga Pantera. Pengaruh ini terasa kuat dalam karya-karya mereka yang menyuguhkan perpaduan riff gitar tajam, hentakan drum cepat, serta vokal dinamis yang berat dan menggeram namun juga bisa melengking penuh emosi.
Tak hanya soal musik, MCK juga dikenal lewat lirik-lirik yang sarat kritik sosial dan semangat perlawanan. Mereka tak segan menjadi corong bagi generasi muda yang gelisah, menolak tunduk pada kerusakan dan ketidakadilan. Dalam setiap penampilan, MCK menyajikan pengalaman visual dan sonik yang mengguncang, menciptakan ruang pelampiasan sekaligus refleksi.
Dengan lebih dari satu dekade perjalanan, beberapa kali pergantian personel, dan panggung-panggung penuh energi, Mom Called Killer telah membuktikan bahwa semangat mereka belum padam. Mereka tetap menjadi suara yang lantang dari Bali menggema hingga ke seluruh penjuru negeri. (BC5)

















