Mangupura, balibercerita.com –
Kendati vaksinasi Covid-19 di Bali cukup tinggi dan antibodi masyarakat diyakini juga sudah tinggi, namun masyarakat diingatkan untuk tetap disiplin melaksanakan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Pasalnya, antibodi yang tinggi hanya sebagai penetralisir virus, sementara untuk melakukan pencegahan harus senantiasa menggunakan langkah 3M.
Menteri Dalam Negeri, Jenderal Polisi (Purn) Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D., menerangkan, saat ini kasus Covid-19 di Indonesia relatif cukup terkendali. Hal itulah yang membuat pemerintah kemudian melakukan pelonggaran aturan. Hal itu diharapkan dapat menjadi momentum kebangkitan sektor perekonomian dan turisme di Bali.
Namun, masyarakat diingatkan untuk tetap disiplin menerapkan prokes, sehingga diharapkan kasus Covid-19 terus melandai. Terlebih saat ini dihadapkan dengan hari raya yang akan membuat mobilitas masyarakat menjadi cukup tinggi. “Di Bali relatif aman. Ini tentu berkat kerja keras Pak Gubernur, pangdam, Kapolri, bupati dan wali kota. Angka kasus relatif rendah dan vaksinasi relatif cepat di Bali. Namun jangan lengah, kita harus tetap waspada dengan 3M,” ungkapnya saat menghadiri acara Trisenses #GILAs Sampah, di Pantai Jerman Kuta, Minggu (17/4) sore.
Mantan Kapolri ini memaparkan, pemerintah secara rutin memantau dan mengevaluasi kondisi perkembangan angka Covid-19 di Indonesia. Untuk wilayah luar Pulau Jawa dan Bali dilakukan bersama Menko Ekonomi dan di Pulau Jawa dan Bali dilakukan bersama Menkomarinvest setiap akhir pekan. Hal itu kemudian dievaluasi oleh presiden bersama menteri terkait monitoring semua pergerakan angka kasus, mulai dari kasus positif maupun positif rate, maupun jumlah persentase positif dari yang dilakukan tes.
Standar yang ditetapkan WHO berada di bawah 5 persen, angka kematian harus di bawah 3 persen, tingkat bed occupancy ratio (BOR) harus di bawah 50 persen dari kesediaan rumah sakit, serta tingkat vaksinasi. “Saat ini angka kasus Covid-19 di Indonesia berada di bawah seribu, angka kematian jauh di bawah 3 persen, keterisian BOR di bawah 25 persen,” paparnya.
Selain dari vaksinasi, antibodi yang terbentuk di tubuh masyarakat berkembang dari infeksi alami. Pembentukan antibodi secara alami itu dapat disurvey, untuk melihat berapa jumlah persen antibodi yang dimiliki masyarakat. Karena itu pemerintah juga melakukan Tes Serologi yang tidak banyak dilakukan negara lain. Dari survey yang dilakukan Kemenkes berkolaborasi dengan Kemendagri pada bulan Desember lalu, sebanyak 20 ribu sampel di 100 kota dilakukan tes serologi. Hasilnya, secara nasional masyarakat Indonesia sudah memiliki antibodi 86,6 persen. “Bali seingat saya kurang lebih 93 persen sudah memiliki antibodi,” ucapnya.
Kemenkes kembali melakukan survey serologi pada bulan Maret, dengan jumlah yang lebih sedikit dari sebelumnya. Dari 92 sampel yang dipilih secara random, mereka diketahui sudah memiliki antibodi. Hasil itu tentu menjadi modal penting, karena antibodi dapat menetralisir virus. Namun untuk mencegah penularan, masyarakat harus tetap melaksanakan 3M. (BC5)
















