Kawasan Kutuh Jauh Lebih Bersih dari Sebelumnya, Ini Rahasianya

0
110
Kutuh
Bendesa Adat Kutuh bersama Perbekel Kutuh saat memperkenalkan satgas sampah di acara Pandawa Festival 2025. (ist)

balibercerita.com –
Desa Adat Kutuh menunjukkan bahwa perubahan lingkungan tidak selalu harus menunggu program besar dari pemerintah. Dalam beberapa bulan terakhir, desa ini membentuk satuan tugas (satgas) sampah, sebuah langkah kecil namun berdampak besar bagi kebersihan lingkungan. Hanya dengan empat anggota yang bekerja dua shift setiap hari, kawasan Kutuh kini tampak jauh lebih rapi dari sebelumnya, terutama di titik yang selama ini luput dari layanan sampah berlangganan.

Gagasan pembentukan satgas sejatinya telah muncul sejak 2019, ketika Bendesa Adat Kutuh, Jro Nyoman Mesir melihat sampah mulai menumpuk di berbagai ruas jalan. Pandemi sempat menunda rencana itu, namun memasuki periode kedua kepemimpinannya, Mesir merasa desa tidak bisa lagi menunggu. “Situasi lingkungan semakin memprihatinkan, bahkan banjir di beberapa wilayah Bali ikut dipicu oleh sampah. Kami sadar harus bergerak,” ujarnya.

Baca Juga:   The Nusa Dua Bersolek, Rejuvenation Dimulai dari Penguatan Daya Tarik Pulau Peninsula dan Water Blow

Dari rapat desa adat, disepakati bahwa setiap banjar mengirim satu perwakilan sebagai anggota satgas. Meski jumlahnya terbatas, hasil dari kerja lapangan mereka langsung terlihat. Sampah liar yang sebelumnya memenuhi ruas jalan kini berkurang drastis. “Yang kami tangani khusus sampah liar. Untuk sampah berlangganan tetap oleh desa dinas,” kata Mesir.

Namun yang membuat gerakan ini unik bukan hanya kerja fisik satgas, tetapi juga partisipasi masyarakat yang ikut dilibatkan. Desa menyediakan imbalan Rp500 ribu bagi warga yang merekam atau menangkap pelaku pembuangan sampah sembarangan. Meski belum ada laporan masuk, langkah ini menunjukkan bahwa kebersihan Kutuh dirawat secara kolektif.

Baca Juga:   Backpacker Merapat, Nikmati Sensasi dan Kesegaran Mandi di Telaga Waja

Untuk memperkuat pengawasan, desa juga menyiapkan CCTV bergerak di titik rawan. Semua rekaman bisa dipantau lewat ponsel anggota satgas. “Ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi mengajak masyarakat sadar bahwa ruang publik harus dijaga bersama,” ujar Mesir.

Setiap anggota satgas menerima gaji Rp3,5 juta per bulan. Mesir menegaskan, tanggung jawab mereka besar, mulai dari patroli, bersih-bersih, hingga memberi edukasi soal pemilahan sampah yang kemudian diproses di TPST 3R. “Yang mereka lakukan bukan sekadar kerja rutin, tetapi upaya menjaga wajah desa,” katanya.

Baca Juga:   Sekaa Teruna Se-Kabupaten Badung Gelar Pasamuan Agung 

Melalui gerakan yang dilaksanakan, diharapkan Desa Kutuh dapat menginspirasi desa-desa perbatasan agar ikut merawat wilayahnya. “Jangan sampai Kutuh bersih, tapi perbatasannya kotor. Ini harus menjadi gerakan bersama,” ajak Mesir.

Anggota satgas, Made Astika mengakui perubahan itu nyata. “Awal bertugas, sampah di jalan benar-benar mengerikan. Tapi hari demi hari, masyarakat mulai berubah. Setelah tiga minggu, kondisinya jauh lebih baik,” ujarnya.

Melalui satgas sampah, Kutuh sedang menunjukkan bahwa ketika desa bergerak, masyarakat terlibat, dan kesadaran dibangun pelan-pelan, lingkungan yang bersih bukan hanya wacana, tetapi kenyataan yang bisa dirasakan siapa pun yang melintas. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini