Mangupura, balibercerita.com –
Pemerintah Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, terus menunjukkan komitmennya dalam mengatasi persoalan sampah yang selama ini menjadi permasalahan serius di masyarakat. Salah satu langkah strategis yang kini diambil adalah penerapan mesin olah runtah (motah) di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Tebo Kauh yang dikelola desa.
Perbekel Kutuh, Wayan Mudana menyampaikan bahwa penggunaan mesin Motah merupakan hasil dari studi lapangan ke Bandung. Dari kunjungan tersebut, ditemukan desa yang telah berhasil menggunakan mesin ini secara efektif.
“Kita melihat langsung prosesnya di sana. Sampah bisa langsung ditangani di tempat, baik organik maupun anorganik, kecuali botol. Ketika suhu mencapai 1.100 derajat, botol bisa meledak, jadi harus dipisah,” ujarnya.
Mesin motah dinilai sangat efisien dan ramah lingkungan karena mampu membakar sampah secara tuntas tanpa menimbulkan polusi dan tanpa menggunakan bahan bakar tambahan. Asap yang dihasilkan pun sangat minim. Uji emisi bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah dilakukan, hasilnya aman. Tidak ada asap hitam, bahkan nyaris tanpa asap.
Dengan kapasitas pengolahan mencapai 7-9 ton sampah per hari, motah mampu menyelesaikan pembakaran 1 ton sampah hanya dalam waktu 1 jam. Namun demikian, menurut Mudana, proses pengolahan masih terkendala karena sampah dari masyarakat umumnya belum terpilah.
“Sampah masuk ke TPS masih tercampur, jadi perlu waktu untuk memilah. Tidak bisa langsung dimasukkan ke mesin. Misalnya pampers harus ruang terpisah, sementara botol kemasan masih bisa dijual,” jelasnya.
Sisa pembakaran atau residu dari Motah hanya sekitar 10 persen, yang ke depannya akan dimanfaatkan untuk membuat paving block. Proses ini ditargetkan mulai berjalan Agustus 2025. Untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah, Desa Kutuh akan menambah satu unit mesin motah.
“Dengan dua mesin, kita optimis mampu mengelola hingga 9 ton sampah per hari. Tapi yang terpenting tetap pada pemilahan dari sumbernya. Kami juga telah melakukan sosialisasi agar masyarakat mulai memilah sampah dari rumah,” tuturnya.
Langkah ini merupakan bagian dari program prioritas Pemerintah Desa Kutuh dalam pengentasan masalah sampah di tahun 2024. Selain itu, desa juga telah menerapkan bank sampah, mengolah sampah organik basah menjadi ecoenzym, serta mengubah organik kering menjadi kompos. Sementara sampah anorganik yang bernilai ekonomis akan dijual kembali.
Pembangunan TPS Kutuh sendiri baru diresmikan Desember 2024, namun sudah menunjukkan hasil menggembirakan. Saat ini, sudah sekitar 70 persen sampah berhasil diolah, sementara 30 persen sisanya masih dalam proses penanganan.
Pengadaan mesin Motah yang bernilai sekitar Rp1,5 miliar bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes), termasuk reward dari Mangupura Award. “Mesin ini pertama kali digunakan di Bali oleh Desa Kutuh. Kami yakin karena sudah melihat bukti langsung keberhasilannya di tempat lain,” tutup Mudana. (BC5)



















