Mangupura, balibercerita.com –
Aktivitas paralayang yang dijalankan Gunung Payung Paragliding dipastikan telah berjalan sesuai prosedur operasional standar (SOP) dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai adat serta kesucian pura. Hal ini ditegaskan langsung oleh Direktur Utama BUMDA Kutuh, Ni Luh Hepi Wiradani.
“Seluruh kegiatan paralayang yang kami kelola telah dilakukan dengan standar keselamatan lengkap, mulai dari penggunaan helm, harnes, hingga parasut cadangan. Semua pilot yang terlibat juga memiliki lisensi dan sertifikasi resmi,” jelasnya Rabu (6/8).
Dalam setiap penerbangan tandem, peserta akan dipandu oleh pilot profesional. Sementara, untuk penerbangan solo, hanya diperbolehkan bagi mereka yang telah mengantongi lisensi khusus. Sebelum lepas landas, seluruh peserta juga wajib mengikuti sesi briefing keselamatan, termasuk larangan terbang dekat pura demi menjaga keselamatan dan menghormati kesucian tempat suci.
Ia juga menambahkan bahwa lokasi lepas landas paralayang terletak cukup jauh dari bibir tebing di atas Pantai Gunung Payung. Namun, dalam beberapa dokumentasi visual, sudut pengambilan gambar bisa saja menimbulkan kesan bahwa aktivitas terbang terjadi di atas pura.
“Kami sangat memperhatikan nilai-nilai adat dan tidak pernah melakukan aktivitas yang melanggar kesucian pura. Jika ada kesan terbang di atas pura, itu murni karena sudut pengambilan gambar,” tegasnya.
Selain fokus pada pengembangan sektor pariwisata, BUMDA Kutuh juga berkomitmen terhadap pemberdayaan masyarakat lokal. Saat ini, seluruh tim yang terlibat dalam operasional paralayang di Gunung Payung Paragliding merupakan warga Desa Adat Kutuh.
Paralayang di Gunung Payung tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga menjadi bentuk konkret sinergi antara pariwisata berkelanjutan dan pelibatan aktif masyarakat lokal. “Di sini ada 6 pilot dan 10 porter. Seluruh tim, baik pilot, porter, maupun staf administrasi, semuanya adalah masyarakat lokal Desa Adat Kutuh,” pungkasnya. (BC5)
















