balibercerita.com –
Antisipasi terhadap potensi insiden penerbangan terus diperkuat. Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai kembali menggelar Airport Emergency Committee (AEC) Meeting 2025 yang dirangkaikan dengan Table Top Exercise (TTX) pada Kamis (14/11).
Kegiatan ini menjadi ajang evaluasi bersama bagi 91 instansi lintas sektor, guna memastikan seluruh unsur kedaruratan memiliki prosedur dan jalur komunikasi yang selaras saat kondisi darurat benar-benar terjadi. Diantaranya unsur TNI, Polri, Basarnas, AirNav, maskapai penerbangan, hingga rumah sakit rujukan.
General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, Ahmad Syaugi Shahab menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi ajang penting untuk memastikan seluruh komponen kedaruratan mampu bergerak cepat dan terkoordinasi. “Kondisi darurat tidak bisa diprediksi, tetapi kesiapannya harus dipastikan. Melalui AEC Meeting dan Table Top Exercise ini, kami mengukur apakah jalur komando dan komunikasi berjalan efektif ketika insiden benar-benar terjadi,” ujar Syaugi.
Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari kewajiban penyelenggara bandara berdasarkan UU No. 1 Tahun 2009 dan KP 479 Tahun 2015, serta mengacu pada standar internasional ICAO Annex 14 dan ICAO Doc 9137, pedoman penyusunan Airport Emergency Plan (AEP) 2025.
Dalam forum tersebut, Bandara Ngurah Rai memaparkan sejumlah pembaruan pada AEP 2025, di antaranya penyempurnaan alur komunikasi kedaruratan, pembagian peran antarinstansi, serta pengaturan titik-titik strategis seperti rendezvous point (titik kumpul), staging area (area persiapan penanganan), dan passenger holding area (tempat evakuasi penumpang).
Usai pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan Table Top Exercise (TTX) yaitu simulasi berbasis diskusi yang menggambarkan skenario insiden penerbangan. Setiap instansi diuji kemampuannya dalam merespons situasi darurat, mulai dari penerimaan laporan hingga penanganan di lapangan.
“AEP adalah dokumen hidup yang harus terus diperbarui mengikuti dinamika operasi. Melalui TTX, kami bisa melihat bagaimana koordinasi berjalan, sekaligus menemukan celah yang perlu diperbaiki,” imbuh Syaugi.
Selain menguji kesiapan internal, kegiatan ini juga menjadi ajang sinkronisasi antara AEP bandara dan emergency response plan (ERP) milik maskapai, agar seluruh pihak bergerak dalam protokol yang sama ketika situasi kritis terjadi.
Dengan terselenggaranya AEC Meeting dan TTX 2025, Bandara I Gusti Ngurah Rai menegaskan komitmennya menjaga kesiapsiagaan, keselamatan penerbangan, dan koordinasi lintas sektor, sebuah langkah nyata menjaga kepercayaan dunia terhadap Bali sebagai gerbang udara internasional yang aman dan andal. (BC5)



















