balibercerita.com –
Bali Interfood 2026 tak sekadar menghadirkan produk dan teknologi industri makanan-minuman. Pameran yang digagas Krista Exhibitions Group ini juga menjadi bagian dari upaya membawa talenta kuliner Indonesia ke panggung kompetisi internasional.
CEO Krista Exhibitions Group, Daud D. Salim mengatakan, Bali Interfood yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-7 memiliki hal menarik. Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah seleksi peserta kompetisi gelato. Bali menjadi lokasi awal untuk menyeleksi talenta yang nantinya akan mewakili Indonesia dalam kompetisi tingkat Asia. “Dari Bali kita mau menyeleksi peserta gelato. Peserta dari negara ASEAN harus ke Indonesia untuk diperlombakan sebelum menuju tingkat dunia di Italia,” ujar Daud.
Seleksi tersebut nantinya berlanjut ke Jakarta. Indonesia akan menjadi tuan rumah kompetisi yang mempertemukan perwakilan dari 10 negara. Pemenang kompetisi selanjutnya akan diutus ke Eropa pada Januari 2027, tepatnya di Rimini Italia yang dikenal sebagai salah satu pusat industri dan pameran gelato dunia.
Daud menegaskan, keberhasilan Indonesia menjadi pusat seleksi kompetisi gelato di Asia merupakan peluang strategis untuk memperkenalkan potensi industri kuliner nasional ke pasar internasional. Menariknya, kompetisi tersebut juga mensyaratkan penggunaan bahan baku dari dalam negeri.
Dengan demikian, ajang internasional tersebut tidak hanya menjadi panggung bagi para chef dan pembuat gelato, tetapi sekaligus membuka peluang promosi bahan baku lokal. “Persyaratannya, ingredient harus dari dalam negeri,” katanya.
Menurut Daud, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi Krista Exhibitions memperluas posisi Indonesia dalam peta industri kuliner Asia Pasifik. Selama ini, sejumlah kompetisi kuliner internasional masih banyak berpusat di Singapura. “Kita melihat kompetisi Asia Pasifik penyeleksiannya harus melalui Singapura untuk dilombakan ke tingkat dunia di Eropa. Karena itu kami berinisiatif menghubungi pusatnya di Italia dan menyelenggarakan penyeleksian di Asia Pasifik,” jelasnya.
Kerja sama dengan penyelenggara internasional tersebut diharapkan berlangsung secara eksklusif dalam jangka panjang. Indonesia nantinya memiliki ruang untuk menjadi tuan rumah seleksi pada bidang kompetisi yang telah disepakati.
Selain gelato, rangkaian kegiatan industri kuliner juga akan menghadirkan berbagai kompetisi dan aktivitas pendukung, mulai dari wine class, wine pairing, fruit carving hingga pelatihan. Ia berharap pengembangan kegiatan tersebut ke depan dapat semakin terintegrasi dengan industri hospitality Bali sehingga skala pameran dan manfaat ekonominya semakin besar.
Di sisi lain, Bali Interfood 2026 yang digelar di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) The Nusa Dua, 2-4 September 2026 tetap membawa misi memperkuat pelaku industri kecil dan menengah (IKM) Bali. Pihaknya berencana memfasilitasi sekitar 20-27 IKM terpilih dari Bali pada penyelenggaraan tahun depan. Produk terbaik akan diseleksi dan diberikan ruang untuk tampil dalam pameran sebagai bagian dari upaya memperluas akses pasar bagi pelaku usaha lokal.
Potensi produk Bali dinilai cukup besar, salah satunya berasal dari sektor cokelat. Sejumlah produsen cokelat Bali mengolah bahan baku kakao yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Sulawesi. “Banyak produsen cokelat dari Bali. Bahan bakunya banyak diambil dari Pulau Sulawesi, kemudian diolah dan dikemas dengan menarik. Berbagai merek cokelat dari Bali akan ditampilkan di Bali Interfood kali ini,” ungkapnya.
Selain cokelat, pameran juga menghadirkan produk segar untuk kebutuhan industri hospitality. Salah satunya perusahaan yang memasok sayur-mayur segar untuk perhotelan. Kehadiran produk-produk tersebut memperlihatkan rantai industri F&B yang semakin luas. Tidak hanya makanan siap konsumsi, tetapi juga bahan baku dan berbagai kebutuhan operasional hotel, restoran dan industri hospitality.
Bali Interfood 2026 ditargetkan menarik sekitar 8.000 pengunjung selama tiga hari pelaksanaan. Sebagian besar peserta merupakan exhibitor yang kembali berpartisipasi, menunjukkan adanya loyalitas pelaku industri terhadap pameran tersebut. Selain peserta lama, terdapat pula sejumlah peserta baru yang mulai melihat Bali sebagai pasar strategis bagi industri makanan-minuman dan hospitality.
Penyelenggaraan Bali Interfood sendiri memiliki perjalanan cukup panjang. Pameran perdana berlangsung pada 2014 dan sebelumnya digelar setiap dua tahun. Mulai 2026, penyelenggaraan diarahkan menjadi agenda tahunan.
Antusiasme pasar juga terlihat pada penyelenggaraan 2025. Meski pada hari pertama pameran sejumlah wilayah Denpasar dilanda banjir, jumlah pengunjung tidak mengalami penurunan signifikan. “Kami sempat berpikir, waduh bagaimana pengunjungnya. Rupanya hari itu pengunjung cukup ramai dan para IKM-UMKM makanan-minuman yang menampilkan produknya senang,” kata Daud.
Bahkan, sejumlah pengunjung internasional disebut langsung melakukan pemesanan terhadap produk UMKM. Pengunjung dari Jepang, Australia, Korea Selatan, China dan sejumlah negara lainnya turut membuka peluang pasar baru bagi produk lokal.
Menurut Daud, dampak pameran tidak dapat diukur hanya dari transaksi yang terjadi selama tiga hari. Banyak pertemuan bisnis membutuhkan proses sebelum akhirnya menghasilkan kerja sama. “Ada perusahaan yang datang, melihat, mencoba makanan, tetapi tidak membeli langsung. Mereka berpikir dulu. Setelah ditimbang-timbang, baru mereka memutuskan. Artinya ada jangka waktu. Antara pameran tiga hari dan selanjutnya proses bisnisnya berjalan terus. Ini seperti roda,” pungkasnya.
Ke depan, Krista Exhibitions berharap Bali Interfood dapat berkembang seiring pertumbuhan industri hospitality Bali. Bahkan, tidak menutup kemungkinan penggunaan seluruh ruang pameran BNDCC untuk penyelenggaraan berikutnya. “BNSC kan punya dua gedung. Kita baru memakai satu gedung. Mudah-mudahan tahun depan bisa memakai dua-duanya,” tandas Daud. (BC5)

















