balibercerita.com –
Masyarakat Bali diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang kerap muncul selama masa peralihan musim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, Bali saat ini tengah memasuki fase transisi dari musim kemarau menuju musim hujan yang ditandai dengan cuaca yang sangat tidak stabil.
Prakirawan BMKG Wilayah III Denpasar, Brian Eko Permadi menyebut bahwa dinamika atmosfer saat ini menyebabkan pola cuaca menjadi tidak menentu. Saat ini wilayah Bali sudah memasuki musim peralihan sejak awal September. Kondisi ini membuat cuaca labil, kadang panas, kadang hujan lebat.
Fenomena atmosfer seperti gelombang ekuatorial Rossby juga turut memicu terbentuknya awan konvektif, yang meningkatkan potensi hujan secara tiba-tiba di beberapa wilayah. Menurutnya, cuaca ekstrem ini bisa terjadi secara lokal namun berdampak signifikan, terutama di wilayah Bali tengah, selatan, dan barat.
“Periode pancaroba seperti sekarang ini memang rawan terjadi hujan sedang hingga lebat, kilat atau petir, serta angin kencang berdurasi singkat. Masyarakat perlu lebih waspada,” imbaunya.
BMKG memprediksi potensi hujan masih akan berlangsung hingga 10 September dengan intensitas yang cenderung menurun. Sementara, pada 11–12 September, kondisi cuaca diperkirakan kembali cerah dan panas. Ia mengingatkan masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca terkini dari BMKG Bali, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan atau tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi.
Meski tanda-tanda musim hujan mulai terlihat, BMKG menegaskan bahwa awal musim hujan secara resmi di Bali baru akan ditentukan oleh Stasiun Klimatologi Bali. Berdasarkan data historis, awal musim hujan biasanya terjadi pada bulan Oktober, dengan puncaknya diprediksi terjadi pada Januari hingga Februari 2026. (BC5)



















