Hujan di Bali saat Musim Kemarau, BMKG Sebut Masih Normal

0
318
Hujan
Ilustrasi hujan. (ist)

Denpasar, balibercerita.com –
Meskipun saat ini wilayah Bali telah resmi memasuki musim kemarau, hujan yang masih turun di sejumlah daerah membuat masyarakat menilai bahwa Bali tengah mengalami kemarau basah. Namun, anggapan ini ditepis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang menilai curah hujan yang terjadi masih dalam kategori normal untuk musim kemarau.

Musim kemarau bukan berarti mengindikasikan hujan serta merta menghilang begitu saja, sebab hujan itu masih memungkinkan terjadi seperti saat ini. Prakirawan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Wulan Wandarana menjelaskan bahwa anggapan masyarakat yang menilai Bali mengalami kemarau basah kurang tepat. Meskipun hujan masih terjadi, hal ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Bali mengalami kemarau basah.

Baca Juga:   Dua Jenazah Ditemukan di Selatan Selat Bali, Tim SAR Gabungan Intensifkan Pencarian di Sektor Selatan

“Belum bisa dikatakan kemarau basah karena kondisinya masih normal. Dari pantauan stasiun Klimatologi Jembrana, untuk kondisi kemarau di wilayah Bali masih normal di masa peralihan musim,” ucapnya, Rabu (25/6)

Ia menjelaskan, kemarau basah secara kecenderungan ditandai dengan pola hujan yang tinggi dan frekuensi yang mendekati musim hujan. Namun, berdasarkan data klimatologi stasiun Jembrana, pola hujan di Bali saat ini masih tergolong normal untuk masa peralihan musim. Musim kemarau bukan berarti sama sekali tidak ada hujan yang turun di masa tersebut.

Saat ini hujan masih terjadi di wilayah Bali tengah, selatan dan timur. Selama 2 hari ke depan kondisi hujan ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi. Hal ini dipicu adanya belokan angin di sekitar Bali, yang berperan dalam meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan, terutama di lapisan atmosfer 700 mb dan menyebabkan angin kencang di sejumlah wilayah.

Baca Juga:   Unud Ingin Bertransformasi Jadi PTN Berbadan Hukum

Di beberapa wilayah, proses peralihan dari musim hujan ke kemarau masih berlangsung dan ada sebagian yang sudah masuk musim kemarau. Dengan demikian, maka belum semua wilayah di Bali masuk musim kemarau, seperti di wilayah Bali bagian barat. Untuk wilayah Bali bagian tengah kondisi musim kemarau juga sedikit terlambat dibandingkan periode-periode sebelumnya. “Itu karena faktor belokan angin dan gangguan atmosfer sekitar,” jelasnya.

Baca Juga:   Bupati Adi Arnawa Apresiasi Perangkat Daerah Raih WBBM dari Kemenpan RB

Secara umum, puncak musim kemarau di wilayah Bali berbeda-beda, tergantung kondisi dinamika di lapangan. Puncak musim kemarau di Bali bagian selatan, utara dan timur cenderung lebih duluan dibandingkan wilayah lainnya. Sedangkan wilayah Bali bagian tengah masih berpotensi hujan hingga bulan Juni ini.

Karena adanya belokan angin, hal ini menimbulkan angin kencang di wilayah Bali. Kondisi kecepatan angin saat ini maksimal dapat mencapai 40 km/jam, apalagi di wilayah selatan bali kondisinya lebih kencang. Jika disertai dengan hujan, maka kondisinya akan lebih kencang. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi hujan disertai angin kencang, terutama di wilayah selatan Bali dalam beberapa hari mendatang. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini