Cahaya Suci Penuntun Berdirinya Pura Luhur Srijong 

0
619
Pura Luhur Srijong
Kawasan Pura Beji, Pura Luhur Srijong. (BC13)

Tabanan, balibercerita.com – 

Pura Luhur Srijong menyimpan cerita yang sangat menarik disimak. Pura ini erat kaitannya dengan perjalanan tokoh termasyhur Kebo Iwa dan Dang Hyang Nirartha, serta cerita Tabanan di zaman kerajaan. Selain itu, struktur pura khususnya pada beji sangat unik karena berupa gua dipenuhi kelelawar yang sangat disakralkan masyarakat setempat.

Berlokasi di kawasan pantai dan muara di Kecamatan Selemadeg, areal Pura Luhur Srijong memiliki pesona alam eksotis. Areal utama pura berdiri kokoh di atas tebing yang menjorok ke laut. Sementara, areal Pura Beji-nya berupa sebuah gua di bawah tebing kawasan utama pura. Sebuah perpaduan yang sempurna bagi Anda yang ingin mencari ketenangan lahir dan batin. 

Menurut penuturan Pemangku Pura Luhur Srijong Jro Mangku Gede Made Suata, asal usul pura ini berkaitan erat dengan perjalanan suci Dang Hyang Nirartha dan panglima perang kerajaan Bali Aga, Kebo Iwa. Sebelum pura didirikan, kawasan tersebut merupakan wilayah kekuasaan Kebo Iwa. 

Baca Juga:   Pura Antaboga, Tempat Rsi Markandeya Mendapat Petunjuk Menanam Panca Datu di Besakih

Berdasarkan cerita rakyat, kata Jro Mangku Suata, tersebutlah seorang raja penguasa Tabanan yang melihat sebuah sinar di barat daya Puri Tabanan. Raja kemudian menugaskan Bendesa Antosari untuk mencari sumber cahaya berbentuk seperti api tersebut. Diketahuilah, sumber cahaya itu berasal dari sebuah gua di tepi pantai. 

“Sinar itu konon sangat besar. Besar, mungkin seperti pohon kelapa yang menjulang tinggi ke langit. Terang benderang dilihatnya oleh Bendesa Antosari. Setelah diketahui asal sumber cahaya tersebut, ia kemudian kembali ke puri untuk melaporkannya kepada raja,” katanya. 

Mendapat laporan tersebut, raja kembali mengutus Bendesa Antosari untuk menata areal sumber cahaya itu sebagai kawasan suci yang kelak menjadi sebuah Pura Kahyangan Jagat. Beberapa waktu kemudian, raja datang bersembahyang diiringi oleh Bendesa Antosari dan masyarakat. Pada tengah malam, saat bersemedi, raja seperti mendengar suara gerombolan lebah yang datang dari arah pantai menuju pura. Setelah dicari, ternyata tidak ada gerombolan lebah, yang ada justru kayu uli.

Baca Juga:   Desa Adat Ungasan Gelar Karya Labuh Gentuh, Ngenteg Linggih, lan Mapadudusan Agung di Pura Segara Pantai Melasti

Saat anugerah itu diterima, semua pengiring raja terlelap dalam tidurnya. Yang masih terjaga hanya Bendesa Antosari yang mendampingi raja. Raja kemudian meminta Bendesa Antosari ikut bersama menjaga anugerah tersebut, bersama-sama memelihara tempat itu karena tempat tersebut sudah menjadi Pura Kahyangan Jagat. Raja pula yang memberi perintah mengenai siapa yang bertugas ngempon pura tersebut. 

Setelah sekian lama, datanglah orang tua dari pulau Jawa yang tidak diketahui asal-usulnya. Orang tua tersebut datang dari daerah Rambut Siwi, kemudian lanjut ke timur hingga sampai ke tempat itu. Orang tua itu kaget mendapati adanya pura kahyangan dan upacara saat itu. Ia pun disambut oleh pemangku bersama masyarakat yang datang ke pura. Saat itulah, orang tua itu memperkenalkan diri sebagai mengaku Ida Batara Sakti Wawu Rawuh atau Dang Hyang Nirartha.

Baca Juga:   Hindu Jadi Agama Mayoritas di Bali, Ini Alasannya

Kagum dengan sosok Dang Hyang Nirartha yang bijaksana dan memancarkan aura kesucian yang luar biasa, masyarakat kemudian meminta saran dan petunjuk kepada Dang Hyang Nirartha mengenai pengelolaan pura. Sang Hyang Nirartha pun memberikan wejangan dan dharma wacana terkait agama. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya menuju Tanah Lot. 

Saat itulah, kawasan suci ini dinamakan Silihjung, karena Dang Hyang Nirartha berganti alat transportasi jukung. “Lama kelamaan, entah karena apa penyebabnya, kemudian diberikan nama Pura Kahyangan Srijong. Saya pun tidak mengetahui persis bagaimana kronologi penamaan tersebut. Sebab konon hal itu dikarenakan adanya subak yang ikut menyertai, sehingga saat ini kahyangan ini dinamai Srijong, dimana Ida Batara Wisnu memberikan kesejahteraan. Jong itu ada yang bilang itu tempat, ada juga njung sebagai tempat memohon berkah,” kata Jro Mangku Suata. (BC13) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini