Beranda Umum Hari Ketiga, Tiga Kru Speed Boat di Manta Point Belum Ditemukan

Hari Ketiga, Tiga Kru Speed Boat di Manta Point Belum Ditemukan

0
Manta Point
Pemantauan yang dilakukan tim SAR di perairan Nusa Penida. (ist)

balibercerita.com –
Pencarian terhadap 3 orang yang berada di atas speed boat yang mengalami mati mesin di perairan Manta Point, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, memasuki hari ketiga, Senin (14/9). Meski tim SAR gabungan telah mengerahkan kapal dan helikopter untuk menyisir wilayah pencarian, keberadaan ketiganya hingga Senin sore masih belum ditemukan.

Ketiga orang yang masih dalam pencarian tersebut yakni I Nyoman Budiana (49) selaku kapten, serta Keristino Sahreza Avendi Da dan Niko Demios Landena yang merupakan anak buah kapal (ABK). Pada hari ketiga pencarian, KN SAR Arjuna 229 kembali dikerahkan.

Kapal tersebut lepas sandar dari Pelabuhan Benoa sekitar pukul 08.00 Wita menuju area pencarian seluas 45,2 mil laut persegi (NM²). Sebanyak 25 personel terlibat dalam penyisiran.

Selama sekitar 4 jam, KN SAR Arjuna 229 mengitari perairan yang diperkirakan menjadi lokasi keberadaan para korban. Namun, hingga pencarian dari kapal tersebut berakhir, belum ditemukan tanda-tanda keberadaan ketiganya.

Pencarian kemudian diperkuat dengan pengerahan helikopter Bell 412 milik SGi Air Bali yang didukung Finns Search and Rescue. Helikopter mulai melakukan pencarian sekitar pukul 15.00 Wita dan mengudara kurang lebih 1,5 jam. Namun, hasilnya juga masih nihil.

Kepala Seksi Operasi dan Siaga SAR Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, I Wayan Juni Antara mengatakan, area pencarian telah diplot berdasarkan perhitungan arah dan kecepatan angin serta arus laut. “Kami sudah plotting area pencarian dengan perhitungan arah dan kecepatan angin serta arus. Sesuai dengan perhitungan, namun pencarian dengan kedua alut yang bergerak belum memberikan hasil,” kata Juni Antara.

Baca Juga:   Dirjen Bimas Hindu Diganti

Selain mengerahkan kapal dan helikopter, belasan perahu dari kelompok nelayan juga turut membantu menyisir perairan. Tim SAR juga melakukan koordinasi dengan Vessel Traffic Service (VTS) Benoa pada pagi dan sore hari untuk memperluas informasi mengenai kemungkinan keberadaan speed boat maupun para korban.

Kondisi laut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pencarian. Dari laporan tim di lapangan, kecepatan angin berada di kisaran 12 knot dengan ketinggian gelombang mencapai 2 hingga 4 meter. Kondisi tersebut membuat pencarian di perairan terbuka tidak mudah, terlebih posisi speed boat dan ketiga korban belum diketahui secara pasti.

Informasi awal mengenai kejadian tersebut juga sempat mengalami perubahan. Laporan pertama yang diterima petugas menyebutkan hanya satu orang berada di atas speed boat yang mengalami mati mesin. “Laporan awal kami terima menyebutkan ada satu orang yang masih berada di speed boat yang alami mati mesin pada hari Sabtu, 12 September 2026, dan di hari berikutnya pihak keluarga baru mengonfirmasi ada tiga orang berada di sana,” ujar Juni Antara.

Baca Juga:   Genjot Vaksinasi Booster, Pemkab Buleleng Kerahkan Seluruh Nakes

Laporan awal tersebut diterima petugas siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar pada Minggu (13/9) sekitar pukul 20.20 Wita. Kejadian diperkirakan berlangsung sekitar pukul 19.00 Wita pada Sabtu.

Malam itu, 4 personel Tim Rescue Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar bersama satu personel Polairud Polda Bali bergerak menggunakan RIB 02 Denpasar menuju lokasi yang diinformasikan. Namun, ketika tiba di posisi terakhir, speed boat yang dimaksud sudah tidak terlihat.

Pencarian kemudian dilanjutkan pada Minggu dengan mengerahkan KN SAR Arjuna 229. Kapal tersebut lepas sandar dari Pelabuhan Benoa sekitar pukul 08.30 Wita dengan melibatkan 20 personel. Selama kurang lebih 4 jam bergerak menyisir area pencarian, keberadaan korban belum ditemukan.

Pencarian juga diperkuat helikopter Bell 412 milik SGi Air Bali yang didukung Finns Search and Rescue. Helikopter lepas landas dari base di Benoa sekitar pukul 13.30 Wita dengan tujuh orang di dalamnya, termasuk 3 personel Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar. Selama sekitar 1 jam melakukan pencarian dari udara, tim belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban.

Kondisi laut saat pencarian hari kedua juga cukup ekstrem. Ketinggian alun di area pencarian dilaporkan mencapai sekitar 4 meter. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tim dalam melakukan penyisiran.

Baca Juga:   Buronan Interpol Red Notice Dipulangkan dengan Pengawalan Langsung

Hingga hari ketiga, upaya pencarian terus dilakukan dengan mengoptimalkan seluruh potensi SAR yang tersedia. Tim SAR gabungan juga tetap memperhitungkan kondisi cuaca dan laut serta melakukan evaluasi berdasarkan perkembangan di lapangan.

Pencarian melibatkan personel Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, SGi Air Bali, Finns Search and Rescue, Polairud Polda Bali, Lanal Denpasar, kelompok nelayan, keluarga korban, serta unsur terkait lainnya. Sementara itu, kondisi perairan Nusa Penida dalam beberapa hari terakhir juga menunjukkan tantangan tersendiri bagi aktivitas di kawasan pesisir.

Pada Sabtu (12/9), seorang WNA asal Australia, Cronin Brianna Lani (30), meninggal dunia setelah terjatuh dari tebing Kelingking Beach, Desa Bunga Mekar. Dalam proses evakuasi korban WNA tersebut, rencana melalui jalur laut bahkan harus dibatalkan karena gelombang pasang yang cukup tinggi di sekitar bibir pantai.

Tim akhirnya melakukan evakuasi secara manual melalui anak tangga Pantai Kelingking dengan kondisi medan yang menanjak dan sempit. Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa faktor cuaca, gelombang dan karakteristik medan di kawasan Nusa Penida perlu menjadi perhatian dalam setiap aktivitas di laut maupun kawasan pesisir. (BC5)