Beranda Umum Kemarau Tekan Suplai Air Baku dari Waduk Muara

Kemarau Tekan Suplai Air Baku dari Waduk Muara

0
Waduk Muara
Kondisi aliran air yang di Waduk Muara. (BC5)

balibercerita.com – 

Debit air baku di Waduk Muara yang menjadi salah satu sumber air untuk mendukung pelayanan air bersih di kawasan Badung Selatan mengalami penurunan. Menyikapi kondisi tersebut, Perumda Air Minum Tirta Mangutama memperkuat sejumlah langkah teknis untuk menjaga pasokan air bersih, khususnya bagi pelanggan di wilayah Badung Selatan. 

Direktur Teknik Perumda Air Minum Tirta Mangutama, Made Suarsa mengatakan, debit air di Waduk Muara mengalami penurunan cukup signifikan selama musim kemarau. Jika dalam kondisi normal, produksi air bersih Perumda berada di atas 800 liter per detik, bahkan sekitar 830 liter per detik. Namun, saat ini produksi berada di bawah 800 liter per detik.

Penurunan tersebut sejalan dengan merosotnya elevasi air baku di Waduk Muara. Jika dalam kondisi normal berada di kisaran 130 sentimeter, hasil pemantauan terakhir menunjukkan elevasi air hanya sekitar 80 sentimeter. “Biasanya 130, sekarang 80. Jadi ada penurunan 50 sentimeter sehingga tidak bisa berproduksi normal untuk saat ini,” jelas Suarsa.

Baca Juga:   Diduga Terseret Arus Hujan, Jenazah Ditemukan di Gorong-gorong Jalan Krisnantara

Menurutnya, penurunan debit air mulai dirasakan sejak awal Agustus 2026. Namun, kondisi paling signifikan baru terjadi pada pekan pertama September seiring dampak musim kemarau yang semakin terasa. “Dari awal Agustus terjadi penurunan. Cuma drastisnya memang di minggu ini. Dampak dari kemarau itu bulan ini baru terasa,” ungkapnya.

Dampak penurunan debit Waduk Muara terutama dirasakan di wilayah Badung Selatan. Sebab, kawasan tersebut menjadi salah satu wilayah distribusi air yang mengandalkan produksi dari sumber air baku tersebut.

Baca Juga:   BRI Serahkan Tabungan Pendidikan untuk 119 Putra-Putri Anggota Polda Bali

Meski demikian, kondisi berbeda terjadi di Badung Utara. Produksi dan pelayanan di kawasan tersebut masih relatif normal karena didukung sumber air dari Petang dan Munggu. “Kalau di utara masih normal. Di Petang, Munggu, artinya daerah Badung Utara belum mengalami itu, produksi masih normal,” katanya.

Menghadapi kondisi tersebut, pihaknya melakukan berbagai langkah teknis untuk mengoptimalkan sumber air selama musim kemarau. Salah satu langkah yang ditempuh yakni berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Nusa Penida untuk meminta tambahan aliran atau penggelontoran air menuju Waduk Muara. Upaya ini diharapkan dapat membantu menambah volume air yang masuk ke sistem pengambilan air baku.

Di sisi lain, Perumda juga melakukan pengerukan sedimentasi di Waduk Muara. Pengerukan dilakukan untuk membantu menjaga kapasitas tampung sekaligus mengoptimalkan ketersediaan air menuju sistem pengolahan.

Baca Juga:   Menteri Hanif Tegaskan Program Makan Bergizi Gratis Harus Sejalan dengan Pelestarian Lingkungan

Langkah teknis lainnya dilakukan dengan membuat alur air dari bagian hulu menuju intake bangunan pengolahan. Dengan alur tersebut, air diharapkan dapat mengalir lebih cepat dan optimal menuju titik pengambilan air baku.

Pihaknya juga tetap menyiagakan mobil tangki sebagai langkah antisipasi apabila terdapat wilayah pelanggan yang mengalami gangguan pasokan. Mobil tangki menjadi salah satu instrumen untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat ketika pasokan melalui jaringan perpipaan belum optimal.

Ia mengimbau kepada pelanggan, khususnya masyarakat di Badung Selatan agar menggunakan air secara bijak dan sesuai kebutuhan. Penghematan air dinilai penting untuk membantu menjaga ketersediaan pasokan di tengah menurunnya debit sumber air baku. (BC5)