Abu Gunung Anak Krakatau Menyebar hingga Bengkulu, BMKG Terbitkan 50 Peringatan Penerbangan

0
11
Abu Gunung Anak Krakatau
Pemantauan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang dilakukan BMKG. (ist)

balibercerita.com –
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) terus menjadi perhatian serius terhadap keselamatan penerbangan. BMKG mengintensifkan pemantauan selama 24 jam untuk mengikuti perkembangan erupsi sekaligus mendeteksi dampaknya terhadap atmosfer, ruang udara, dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9), pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani mengatakan, Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta Tangerang langsung menerbitkan significant meteorological information (SIGMET) setelah erupsi awal terjadi pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB.

Hingga Minggu (6/9), BMKG telah menerbitkan 50 SIGMET secara berkala sebagai bagian dari upaya memastikan keselamatan navigasi udara. “Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri.

Pada ketinggian hingga 20.000 kaki, abu vulkanik bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat serta perairan di sekitarnya. Sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Sebarannya mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda hingga Samudra Hindia.

Baca Juga:   Perumdam Tirta Mangutama Siapkan Pengolahan Air Tukad Mati

Dampak sebaran abu vulkanik juga berimbas pada operasional sejumlah bandar udara. Berdasarkan Notice to Airmen (NOTAM) yang diterbitkan Perum LPPNPI/AirNav Indonesia pada 6 September, terdapat penutupan sementara operasional di empat bandara, yakni Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II, dan Bandara Budiarto, dengan waktu penutupan yang berbeda.

Namun, kondisi operasional penerbangan masih dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik serta hasil pemantauan keselamatan penerbangan. Penutupan sementara tersebut merupakan hasil koordinasi dan keputusan bersama berbagai pemangku kepentingan penerbangan nasional.

Otoritas bandar udara berkoordinasi dengan BMKG, Perum LPPNPI/AirNav Indonesia, pengelola bandar udara, Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU), InJourney, otoritas setempat hingga TNI. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan setiap keputusan dalam kondisi darurat tetap mengutamakan keselamatan penerbangan.

Baca Juga:   Selain Trem, Badung Siapkan Tol Laut untuk Atasi Kemacetan di Kawasan Pariwisata

Perum LPPNPI kemudian mempublikasikan NOTAM sebagai pemberitahuan resmi mengenai perubahan kondisi operasional maupun potensi bahaya penerbangan. Informasi ini melengkapi volcanic ash advisory dan SIGMET yang diterbitkan BMKG secara berkala.

Sementara, Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, pemantauan terhadap 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga pukul 07.00 WIB belum menunjukkan adanya anomali muka air laut. Analisis menggunakan teknologi high-frequency (HF) radar array di Carita dan Tanjung Lesung juga menunjukkan probabilitas tsunami saat itu berada pada kategori rendah, yakni di bawah 40 persen, dengan tinggi gelombang laut sekitar satu meter.

Meski demikian, BMKG mencatat adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mendeteksi gangguan geomagnetik yang selaras dengan peningkatan sambaran petir vulkanik dalam 12 jam terakhir. Namun, intensitas gangguan tersebut disebut tidak sebesar saat letusan awal.

Baca Juga:   Tiga Buruh Bangunan Terseret Air Bah di Jembrana, Satu Meninggal dan Satu Masih Hilang

Mengantisipasi dinamika erupsi Gunung Anak Krakatau, BMKG mengoptimalkan kesiapsiagaan melalui pemantauan terpadu berbasis multi-instrumen selama 24 jam nonstop. Data dari berbagai instrumen tersebut kemudian disinergikan dengan analisis PVMBG-Badan Geologi untuk menghasilkan informasi yang cepat, presisi, dan akurat. Sinergi lintas instansi ini sekaligus memperkuat dasar pengambilan keputusan, terutama dalam menjaga keselamatan penerbangan serta masyarakat yang beraktivitas di wilayah pesisir Selat Sunda.

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang bermukim dan beraktivitas di sepanjang pesisir Selat Sunda, untuk meningkatkan kewaspadaan namun tetap tenang. Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya maupun menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi. Pembaruan kondisi secara real-time dapat diperoleh melalui kanal resmi BMKG, Badan Geologi/PVMBG, serta instansi pemerintah berwenang setempat. (BC5)