Polemik Bali Silent Disco di Canggu, Gubernur Koster Tegaskan WNI Turut Terlibat

0
9
Bali Silent Disco
Gubernur Koster saat memberikan keterangan pers. (ist)

balibercerita.com –
Gubernur Bali, Wayan Koster meluruskan polemik mengenai kegiatan Bali Silent Disco di kawasan Canggu, Badung, yang sempat menjadi perbincangan publik. Koster membantah anggapan bahwa kegiatan komunitas lari tersebut hanya diikuti oleh warga negara asing (WNA).

Klarifikasi tersebut disampaikan Koster dalam konferensi pers usai Rapat Koordinasi Forkopimda Provinsi Bali di Gedung Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Selasa (28/7). Koster menjelaskan bahwa berdasarkan laporan yang diterimanya, situasi di lapangan tidak sepenuhnya sama seperti narasi yang beredar di masyarakat.

Baca Juga:   Antisipasi Lonjakan Arus Mudik dan Wisatawan, Basarnas Siagakan 140 Personel SAR di Bali

“Saya dapat laporan itu, ternyata tidak seperti yang diberitakan, orang Indonesia ada. Jadi tidak benar itu kasus,” ujar Koster.

Sebelumnya, kegiatan Bali Silent Disco di Canggu menarik perhatian publik setelah muncul isu mengenai dugaan dominasi WNA, pembatasan akses bagi warga lokal, hingga dugaan tidak adanya izin penyelenggaraan. Mengingat terdapat perbedaan informasi, isu perizinan kegiatan perlu dibedakan secara terpisah dari keterlibatan warga Indonesia dalam acara tersebut.

Baca Juga:   Abrasi Pantai Kuta Jadi Sorotan Publik, Pengelola dan Desa Adat Berikan Penjelasan

Koster menegaskan bahwa aktivitas komunitas, termasuk kegiatan olahraga lari pagi, pada dasarnya tetap diperbolehkan selama tidak mengganggu ketertiban umum. “Kalau lari biasa saja boleh. Tidak ada hal yang perlu dirisaukan sepanjang tidak mengganggu. Ini kan dilakukan pagi hari, tidak ada masalah. Biasa saja, kita juga sering lari pagi,” katanya.

Baca Juga:   UHN IGB Sugriwa Siap Buka Fakultas Kedokteran 2026, Cetak “Adi Dokter Plus” yang Kuasai Medis dan Spiritual

Selain itu, Koster juga menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai potensi munculnya komunitas eksklusif berbasis tempat tinggal bagi WNA di Bali. Ia menyebut keberadaan komunitas semacam itu kini sudah tidak ada lagi. “Ini kan dilakukan pagi hari, tidak ada masalah,” tambahnya.

Ia pun menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap menjaga iklim kegiatan masyarakat dan wisatawan berjalan seimbang serta sesuai aturan yang berlaku. (BC18)