Musim Angin Timur, Nelayan Kedonganan Pilih Melaut Dekat Pantai Demi Keselamatan

0
7
Nelayan Kedonganan
Nelayan di Pantai Kedonganan. (ist)

balibercerita.com –
Musim angin timur kembali menjadi ujian bagi nelayan di pesisir Kedonganan, Kabupaten Badung. Angin yang bertiup kencang dan gelombang yang lebih tinggi dari biasanya membuat para nelayan harus mengubah strategi melaut. Mereka memilih mencari ikan di perairan yang lebih dekat dengan pantai demi menjaga keselamatan awak dan perahu.

Sejak dini hari, aktivitas nelayan tetap berlangsung seperti biasa. Perahu-perahu berangkat menuju lokasi tangkapan yang dianggap aman. Meski ruang gerak terbatas, para nelayan tetap berupaya menjaga pasokan hasil laut agar roda ekonomi keluarga terus berputar.

Salah seorang pemilik perahu asal Kelan, Ketut Suwala mengatakan, dalam beberapa pekan terakhir angin kencang menjadi tantangan utama saat melaut. Kondisi tersebut membuat nelayan tidak bisa menjangkau daerah penangkapan yang lebih jauh. “Hari ini kami dapat ikan layur. Untung lokasi mencari ikannya dekat, di sebelah barat Bangsal Kuta. Dari pantai sekitar 30 menit sudah sampai, jadi masih aman,” ujarnya, Selasa (22/7).

Baca Juga:   Fasilitas PPh Final 0,5% Berakhir, Prof. Raka Suardana: Waspadai Risiko Hambat Ekspansi UMKM

Menurut Suwala, hasil tangkapan nelayan saat ini didominasi ikan layur dan cumi-cumi berukuran kecil. Karena kondisi cuaca yang kurang bersahabat, nelayan memilih fokus di perairan dekat pantai dibanding mengambil risiko berlayar lebih jauh. “Ikan layur masih banyak yang kecil. Untuk mencapai ukuran 1 kilogram per ekor masih perlu waktu lama. Jadi kemungkinan musim layur ini masih akan berlangsung cukup lama,” katanya.

Meski hasil tangkapan nelayan lokal tidak terlalu melimpah, aktivitas perdagangan di Pasar Ikan Kedonganan tetap berjalan normal. Pasokan ikan sebagian besar didatangkan dari luar Bali sehingga kebutuhan pasar masih dapat terpenuhi. “Ikan yang dijual di Pasar Kedonganan kebanyakan dari luar Bali. Jadi pasokan tetap ada, tetapi harga ikan sekarang memang agak mahal,” jelasnya.

Di tengah keterbatasan melaut, nelayan sebenarnya mengetahui ada sejumlah jenis ikan bernilai ekonomi tinggi yang sedang menjadi incaran pasar. Namun lokasi ikan tersebut berada di wilayah yang lebih jauh dan sulit dijangkau saat angin kencang melanda.

Baca Juga:   Sikapi Persaingan Tak Sehat, BVRMA Dorong Penerapan Klasifikasi Vila Berbintang

“Harga layur ukuran besar bisa mencapai Rp130 ribu per kilogram. Bahkan ada jenis ikan nododuro sekitar Rp450 ribu per kilogram, sedangkan mata lebar sekitar Rp200 ribu per kilogram. Sayangnya karena angin, kami tidak bisa menjangkau lokasi ikan-ikan mahal itu,” ungkapnya.

Keselamatan, kata Suwala, tetap menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan melaut. Jika gelombang dinilai terlalu tinggi, nelayan lebih memilih menunda keberangkatan dibanding mempertaruhkan keselamatan. “Kalau ombak tinggi, jangan dipaksakan. Lebih baik libur dulu demi keselamatan perahu dan awak,” tegasnya.

Biasanya nelayan menghentikan aktivitas melaut selama satu hingga dua hari saat kondisi laut memburuk. Namun selama cuaca masih memungkinkan, mereka tetap berangkat meski hasil tangkapan tidak maksimal.
Selain cuaca, nelayan juga masih menghadapi persoalan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Baca Juga:   Targetkan 2.000 Peserta, Festival Jatiluwih VII Siap Manjakan Pelari dan Dongkrak UMKM Lokal

Suwala berharap distribusi BBM bagi nelayan dapat lebih mudah diakses sehingga aktivitas melaut tidak terkendala. “Harapan kami semoga BBM selalu tersedia dan proses mendapatkannya jangan terlalu rumit. Kalau mau berangkat melaut, kami berharap bisa langsung mendapatkan BBM karena surat-surat kami sudah lengkap,” katanya.

Di luar aktivitas melaut, Suwala juga mengembangkan usaha kuliner berbasis hasil tangkapan nelayan melalui warung miliknya, Pade Demen. Langkah tersebut menjadi cara untuk memberikan nilai tambah bagi hasil laut sekaligus memperluas sumber pendapatan masyarakat pesisir.

Bagi nelayan Kedonganan, musim angin timur bukan hanya soal berkurangnya area tangkapan. Musim ini menjadi pengingat bahwa di tengah harapan memperoleh hasil laut bernilai tinggi, keselamatan tetap menjadi prioritas utama yang harus dibawa pulang setiap kali kembali ke daratan. (BC5)