balibercerita.com –
Mengemis dengan berpenampilan sebagai manusia silver kini seolah telah menjadi profesi yang cukup menjanjikan bagi sebagian orang. Dalam sehari, pelakunya bisa meraup pendapatan hingga ratusan ribu rupiah hanya dengan berdiri dan meminta belas kasihan pengguna jalan. Tak heran jika meski berulang kali ditertibkan, fenomena sosial tersebut tak pernah benar-benar hilang dari jalanan.
Selama jalanan masih dianggap menjanjikan untuk mengais rezeki, selama itu pula eksistensi manusia silver akan terus bertahan. Kondisi ini tergambar dari kasus Rifky, seorang remaja asal Jakarta yang kembali diamankan Satpol PP Badung saat melakukan aksinya sebagai manusia silver di kawasan Kuta.
Pada Selasa (21/7), sekitar pukul 16.00 Wita, Rifky kembali terciduk personel Satpol PP Badung saat beroperasi di simpang Imam Bonjol (simpang Imbo), perbatasan wilayah Kuta dan Kota Denpasar. Setelah diamankan, yang bersangkutan dibawa ke Mako Satpol PP Badung untuk menjalani penanganan dan pembinaan lebih lanjut.
Seizin Kasatpol PP Badung, Danru Satpol PP BKO Kuta Wayan Suantara menjelaskan bahwa pelaku diamankan saat petugas melaksanakan patroli rutin kewilayahan. Saat itu, Rifky kedapatan melakukan aktivitas mengemis dengan berpenampilan manusia silver di salah satu persimpangan yang cukup padat lalu lintas.
“Ini sudah kesekian kalinya kami menindak yang bersangkutan. Namun yang bersangkutan tidak kapok dan kembali datang mengulangi perbuatannya,” ujar Suantara saat dikonfirmasi, Rabu (22/7).
Menurutnya, Rifky tercatat sudah sekitar lima kali diamankan oleh petugas. Berbagai bentuk pembinaan telah dilakukan, termasuk pemulangan ke daerah asal yang difasilitasi oleh Dinas Sosial. Namun upaya tersebut belum mampu memberikan efek jera.
Bahkan, pembinaan berupa hukuman fisik ringan seperti push up dan jongkok berdiri juga pernah diberikan. Meski demikian, beberapa waktu kemudian yang bersangkutan kembali muncul dan mengulangi aktivitas yang sama di jalanan. “Sudah pernah dipulangkan ke daerah asal dan pernah diberikan pembinaan. Namun tetap kembali lagi,” katanya.
Dari hasil wawancara petugas, alasan ekonomi menjadi faktor utama yang membuat pelaku terus bertahan sebagai manusia silver. Dalam sehari beroperasi, Rifky mengaku mampu memperoleh penghasilan sekitar Rp200 ribu. Jika dikalkulasikan dalam sebulan, pendapatannya bisa mencapai sekitar Rp6 juta.
Besarnya pendapatan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sebagian pelaku tetap memilih turun ke jalan meski berulang kali ditertibkan oleh petugas. “Dari pengakuannya, sehari bisa mendapatkan sekitar Rp200 ribu. Itu yang kemungkinan membuat yang bersangkutan terus kembali karena merasa aktivitas tersebut masih menghasilkan,” jelasnya.
Sesuai ketentuan Peraturan Daerah tentang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat (Tibum Tranmas), pelaku kemudian diamankan ke Mako Satpol PP Badung untuk menjalani proses pembinaan. Selain itu, ia juga dikenakan sanksi sosial berupa kegiatan bersih-bersih di lingkungan kantor satpol PP. “Pelaku diamankan ke mako induk untuk dilakukan penanganan lebih lanjut. Di lapangan kami juga sudah memberikan pembinaan,” ungkapnya.
Suantara mengakui bahwa penanganan manusia silver dan pengemis jalanan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah. Meski telah berkali-kali ditertibkan, fenomena tersebut terus berulang karena masih adanya peluang mendapatkan uang dari pengguna jalan. “Penanganan fenomena ini ibarat membersihkan jalanan. Berkali-kali ditertibkan, tetap saja muncul kembali. Seperti jamur di musim hujan,” ujarnya.
Karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak membiasakan memberikan uang kepada pengemis maupun pengamen di jalan raya hanya karena rasa iba. Kebiasaan tersebut dinilai justru mendorong munculnya praktik serupa dan menciptakan ketergantungan pada aktivitas mengemis di ruang publik.
Masyarakat juga diharapkan turut berperan aktif menciptakan lingkungan yang lebih tertib dengan tidak membudayakan praktik tersebut, terlebih jika melibatkan anak-anak dan generasi muda yang merupakan aset masa depan bangsa. “Kami berharap masyarakat turut berperan aktif dengan tidak memberikan ruang bagi praktik tersebut untuk berkembang. Penanganan masalah ini tidak bisa dilakukan pemerintah semata karena ibarat supply dan demand. Perlu sinergi serta kepedulian dari berbagai pihak agar hasilnya lebih efektif dan berkelanjutan,” pungkasnya. (BC5)



















