Di Bali, SMK Makin Diminati Lulusan SMP

0
13
SMK
Siswa salah satu SMK di Bali mengikuti MPLS hari pertama. (ist)

balibercerita.com –
Kesadaran generasi muda di Bali dalam memilih jalur pendidikan vokasi menunjukkan tren positif yang sangat signifikan. Data terbaru menunjukkan bahwa persentase lulusan SMP yang memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah kejuruan (SMK) kini telah mendominasi, mencapai angka 60 persen dibanding sekolah menengah atas (SMA).

Hal tersebut disampaikan oleh Koordinator Pengawas (Korwas) SMA/SMK/SLB Disdikpora Provinsi Bali, Drs. I Wayan Suwira, M.Si., M.Pd., Senin (13/7). Menurutnya, pergeseran minat ini membuktikan bahwa para siswa semakin jeli dalam melihat peluang masa depan, terutama menjelang puncak bonus demografi yang diprediksi dimulai pada tahun 2030 hingga 2035.

Baca Juga:   SMK PGRI 5 Denpasar Didorong Jadi Pelopor Sekolah Percontohan Pertama untuk Keadaban Digital

“Anak-anak kita sekarang sangat jeli. Mereka berpikir realistis setelah tamat mau ke mana. SMK punya jargon yang jelas: bisa bekerja, melanjutkan studi, atau berwirausaha, bahkan, mereka bisa kuliah sambil bekerja. Hal inilah yang membuat minat ke SMK melonjak hingga 60 persen, sementara SMA cenderung mengalami penurunan,” ujar Suwira.

Menyikapi tingginya minat masyarakat terhadap SMK, Suwira mengingatkan seluruh kepala sekolah (kasek) agar tetap ketat mematuhi standar pengelolaan pendidikan yang ditetapkan pemerintah pusat. Salah satu aturan krusial yang tidak boleh dilanggar adalah batas maksimal daya tampung kelas.

Berdasarkan aturan dapodik yang sudah terintegrasi secara sistem, kuota maksimal untuk satu rombongan belajar (rombel) atau kelas adalah 36 siswa, dengan batas maksimal 72 rombel untuk satu satuan pendidikan (tergantung banyaknya program keahlian). Suwira menegaskan, sistem digital saat ini akan langsung mengunci (lock) otomatis jika sekolah nekat menerima siswa melebihi kapasitas standar. Jika sistem terkunci, dampaknya akan sangat fatal bagi sekolah dan siswa.

Baca Juga:   Sejumlah SD di Badung Kekurangan Murid Baru, Sembilan Sekolah di Petang Terima Kurang dari 10 Siswa

Selain masalah regulasi kelas, Korwas Disdikpora Bali juga memberikan atensi khusus pada pelaksanaan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) tahun ini. Ia menekankan bahwa paradigma MPLS sudah berubah total dan wajib menerapkan pendekatan ramah anak.

Baca Juga:   Undiksha Kukuhkan 42 Dokter Baru, Siap Mengabdi dengan Profesionalisme dan Etika

Metode-metode lama yang menggunakan kekerasan verbal, bentakan, fisik, maupun tindakan menghakimi siswa baru sudah tidak boleh lagi dilakukan di lingkungan sekolah. “Kita harus menggunakan pendekatan yang ramah. Di awal masuk ini, esensi MPLS adalah melakukan pemetaan potensi siswa sekaligus membantu mereka beradaptasi. Jika mungkin di luar sekolah mereka terbiasa bebas atau kurang disiplin, di sinilah kita bentuk karakternya,” jelas Suwira.

Pembentukan karakter ini menjadi sangat krusial di jenjang SMK, mengingat para lulusannya dipersiapkan untuk langsung terjun ke dunia kerja, khususnya sektor pariwisata dan industri yang membutuhkan etos kerja tinggi. (BC18)