balibercerita.com –
Di tengah pesatnya perkembangan kawasan wisata internasional Jimbaran, sebuah pemandangan memukau sekaligus sarat makna tersaji pada Minggu (21/6) sore. Bukan kemewahan materi atau kemegahan banten yang ditonjolkan, melainkan sebuah simfoni kebersamaan yang diwujudkan oleh ratusan perempuan Banjar Teba melalui prosesi mapeed dengan bokor dan banten yang dibuat seragam.
Bagi warga setempat, prosesi ini bukan sekadar rangkaian ritual adat biasa, melainkan sebuah ruang sakral untuk memperkuat persaudaraan sekaligus menjaga warisan budaya Bali agar tetap hidup dan kokoh di tengah arus modernisasi.
Suasana di sepanjang jalan menuju Pura Kahyangan Jagat Ulun Swi mendadak terasa berbeda sore itu. Sebanyak 250 ibu-ibu PKK Banjar Teba berjalan beriringan dengan anggun sambil menjunjung bokor di atas kepala mereka.
Langkah kaki yang kompak, berpadu dengan alunan gamelan dari sekaa gong mengiringi perjalanan mereka yang memakan waktu sekitar 30 menit. Rombongan ini berjalan kaki dalam rangka melaksanakan prosesi nganyarin pada rangkaian pujawali atau piodalan di pura tersebut.
Pemandangan ratusan bokor yang tampak identik dengan bentuk, ukuran, dan hiasan yang sama persis itu seketika menjadi daya tarik tersendiri. Tak sedikit warga lokal maupun wisatawan asing yang sedang melintas memilih untuk menghentikan langkah mereka, terkesima menyaksikan prosesi estetis yang kini tergolong jarang terlihat di kawasan perkotaan.
Kepala Lingkungan Banjar Teba, Wayan Arnawa mengungkapkan bahwa konsep mapeed seragam ini sengaja dihadirkan untuk menonjolkan esensi sejati dari ngayah, yaitu ketulusan dan kebersamaan. Seluruh ibu PKK sebelumnya telah bersepakat untuk menggunakan model bokor yang sama dan menyusun banten dalam ukuran yang seragam.
”Yang kami tonjolkan bukan kemewahan atau besarnya banten, tetapi kebersamaan. Tinggi banten sekitar 30 sentimeter dari bokor dengan isi buah yang sederhana, namun semuanya dibuat seragam,” ujarnya.
Menurut Arnawa, keseragaman visual ini membawa pesan filosofis yang mendalam tentang kesetaraan. Di mata tradisi, keseragaman tersebut menjadi simbol bahwa dalam ngayah tidak ada perbedaan status sosial maupun tingkat kemampuan ekonomi.
Semua krama (warga) hadir dengan derajat yang sama untuk menghaturkan bakti terbaik mereka kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Setibanya di pura, rangkaian kegiatan yang juga melibatkan krama ngarep ini diawali dengan upacara mendak sebelum akhirnya dilanjutkan dengan penganyaran.
Arnawa menjelaskan bahwa sistem nganyarin di Pura Ulun Swi diatur secara bergiliran oleh banjar-banjar yang bernaung di bawah Desa Adat Jimbaran. Setelah mendapat giliran nganyarin pada piodalan kali ini, enam bulan mendatang Banjar Teba akan mengemban tugas berikutnya yaitu ngampok. Semua banjar dipastikan memperoleh tugas pelayanan ini secara bergantian demi menjaga roda tradisi tetap berputar adil.
Di balik keindahan visual luar biasa yang ditampilkan sore itu, tersimpan proses panjang yang dibangun lewat semangat gotong royong warga. Gagasan untuk menyeragamkan bokor dan banten ini lahir murni dari ruang diskusi dalam rapat rutin ibu-ibu PKK. Dari ide tersebut, mereka kemudian bergerak bersama untuk membeli bokor, membuat sampian, hingga menyiapkan berbagai sarana upacara secara kolektif.
Hebatnya lagi, seluruh pembiayaan untuk aksi ini dilakukan secara swadaya melalui sistem jimpitan atau iuran sukarela berkala. Sementara untuk proses pembuatan sarana upacaranya sendiri dikerjakan bersama-sama oleh warga di banjar. ”Semua dilakukan secara gotong royong. Mulai dari biaya sampai pembuatan sarana upacara. Karena kalau sudah dilakukan bersama-sama, pekerjaan terasa lebih ringan,” pungkas Arnawa.
Ratusan ibu yang melangkah kompak sore itu menjadi bukti hidup bahwa kekuatan tradisi Bali tidak pernah terletak pada megah dan mahalnya upacara, melainkan pada urat nadi kebersamaan yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi. (BC5)














