Pemberdayaan Seniman Lokal di The Nusa Dua Festival 2025: Merajut Harmoni Budaya Bali

0
192
Lokal, The Nusa Dua Festival
Para seniman desa penyangga tampil di pembukaan The Nusa Dua Festival 2025. (ist)

balibercerita.com –
Di balik kemegahan The Nusa Dua Festival (NDF) 2025 yang bertema “Beauty Harmony”, terdapat denyut kehidupan seni lokal yang begitu kuat. Festival ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan ruang nyata bagi seniman-seniman lokal untuk berkarya dan menunjukkan bahwa harmoni antara tradisi dan modernitas dapat hidup berdampingan dengan indah.

Ketua Listibiya Kecamatan Kuta Selatan, I Wayan Deddy Sumantra menjadi salah satu sosok di balik terwujudnya semangat itu. Ia menjelaskan bahwa Pawai Parade Budaya yang membuka festival kali ini dikonsep bukan semata-mata untuk hiburan, tetapi sebagai ajang pemersatu tiga desa adat penyangga kawasan The Nusa Dua dengan para tenant yang ada di dalamnya. “Pawai parade budaya ini melibatkan lebih dari 500 seniman lokal dari 12 banjar desa adat penyangga,” ujarnya, Senin (27/10).

Baca Juga:   The Big Bounce Bali Ajak Anak Lepas dari Gadget, Kembali ke Permainan Luar Ruangan

Kolaborasi tersebut terlihat dari keterlibatan Desa Adat Bualu dengan delapan banjarnya yang berpasangan dengan sejumlah hotel ternama, mulai dari Ayodya Resort Bali hingga Grand Hyatt Bali. Begitu pula Desa Adat Peminge dan Desa Adat Kampial, masing-masing berkolaborasi dengan hotel-hotel besar seperti Merusaka Nusa Dua, The St. Regis Bali Resort, dan The Westin Resort Nusa Dua Bali. Bahkan, Sabha Yowana Desa Adat Peminge turut serta menggandeng Courtyard by Marriott dan Marriott Vacation Club Indonesia.

Deddy menggambarkan parade budaya itu bak untaian permadani khatulistiwa, warna-warni tradisi yang disatukan dalam tenunan kebersamaan. “Parade ini dikemas bergandengan dengan hotel, mengambil epos besar Mahabharata yang terdiri dari 18 parwa. Tiap kontingen menggarap bagian cerita berbeda, diiringi gamelan sesuai karakter kearifan lokal masing-masing banjar,” jelasnya.

Baca Juga:   Baraong, Tari Musikal Dengan Lima Barong di GWK

Konsep ini menjadi simbol dari tema “Beauty Harmony”, bahwa kecantikan sejati justru lahir dari kelembutan dan keharmonisan antarunsur budaya. Tak berhenti di parade, Listibiya juga memfasilitasi berbagai pementasan kolosal dan kegiatan seni edukatif, seperti penampilan Sekaa Gong Desa Adat Bualu di panggung utama, Tari Pendet massal oleh anak-anak sembilan sekolah dasar se-Kelurahan Benoa, serta Tari Penyambutan Sekar Jepun.

Baca Juga:   BAS Coworking Coffee Resto and Bar, Tempat Nongkrong Asyik dengan Area Luas dan Fasilitas Lengkap

Selain itu, kreativitas muda pun turut diberi ruang melalui lomba Penjor antar Sekaa Teruna dari tiga desa adat, dan lomba membuat topeng (tapel) dari clay yang dibuka untuk masyarakat umum se-Bali. NDF 2025 menjadi tonggak awal lahirnya pariwisata berbudaya yang berbasis kearifan lokal. “Kami berharap festival ini terus berlanjut dan semakin merangkul potensi lokal di kawasan Nusa Dua dan Kuta Selatan,” tutupnya.

The Nusa Dua Festival 2025 menjadi cermin perjalanan panjang masyarakat lokal dalam menjaga warisan budaya, bahwa di tengah arus global, seni tradisi tetap punya tempat, asal diberi ruang untuk tumbuh dan bersuara. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini