Minat Baca dan Kebutuhan Buku Bahasa Inggris di Bali Sangat Tinggi

0
3
Buku
Andrew Yap, Marthius Wandi Budianto, dan Eka Putu Ananta. (BC5)

balibercerita.com –
Memasuki tahun ketiga penyelenggaraan di Pulau Dewata, pameran buku internasional terbesar, Big Bad Wolf disebut terus tumbuh dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat lokal hingga wisatawan mancanegara. Bali sebagai destinasi internasional membuat pameran buku terbesar dunia ini menghadirkan atmosfer yang berbeda dibanding kota lain.

Founder Big Bad Wolf International, Andrew Yap mengungkapkan, Indonesia menjadi negara pertama yang dipilih untuk ekspansi internasional Big Bad Wolf sejak 2016. Keputusan tersebut didasari besarnya potensi pasar dan tingginya permintaan masyarakat terhadap buku, khususnya buku berbahasa Inggris. “Indonesia adalah negara tetangga terdekat kami di ASEAN dan memiliki jumlah penduduk yang besar dengan permintaan buku yang sangat tinggi,” ujar Andrew Yap.

Sejak pertama kali hadir tahun 2016, respons masyarakat Indonesia dinilai luar biasa dan sampai sekarang pihaknya terus berinvestasi di Indonesia bersama mitra-mitra seperti BCA dan Blibli. Kini, Big Bad Wolf juga telah memiliki tim lengkap dan gudang distribusi sendiri di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan buku berbahasa Inggris yang terus meningkat.

Khusus di Bali, Andrew melihat potensi yang berbeda dibanding kota-kota lain. Menurutnya, kemampuan bahasa Inggris masyarakat Bali yang erat kaitannya dengan industri pariwisata menjadi alasan kuat pihaknya terus menghadirkan Big Bad Wolf di Pulau Dewata.

“Banyak yang awalnya bilang Bali populasinya kecil, tapi kami melihat masyarakat Bali sangat memahami pentingnya bahasa Inggris. Karena itu kami berani mengambil risiko membawa acara ini ke Bali dan hasilnya terus berkembang lebih baik setiap tahun,” katanya.

Baca Juga:   Infrastruktur, SDM, dan Teknologi Dimatangkan Jelang Ajang Balap Dunia

Tak hanya menyasar masyarakat lokal, Big Bad Wolf Bali juga menjadi magnet bagi wisatawan asing yang berada di Bali. Sebagian besar transaksi selama ini justru berasal dari wisatawan mancanegara dan ekspatriat yang tinggal di Bali. “Budaya membaca di negara-negara Barat memang sangat kuat. Itu yang ingin kami dorong juga di Indonesia, menjadikan membaca sebagai bagian dari budaya sehari-hari,” imbuhnya.

Menurut Andrew, Bali memiliki karakter pasar yang sangat unik karena dihuni beragam wisatawan dari berbagai negara, termasuk Rusia dan negara-negara Eropa Timur. Hal tersebut membuat Big Bad Wolf Bali menjadi semacam survei pasar dunia. “Di Bali ini sangat unik karena perpaduan orang asingnya sangat besar dari berbagai belahan dunia. Bahkan dari acara di Bali ini kami sampai mendapat permintaan untuk mengadakan event di Selandia Baru dan beberapa wilayah Australia,” ungkapnya.

Di tengah pesatnya digitalisasi, Andrew juga optimistis buku fisik tetap memiliki masa depan cerah. Ia menilai tren global saat ini justru menunjukkan masyarakat mulai mencari keseimbangan dengan menjauh sejenak dari layar digital. “Sekarang orang-orang ingin melakukan digital detox. Mereka ingin menjauh dari ponsel dan mencari pengalaman yang lebih manusiawi. Buku menjadi salah satu pilihan utama,” jelasnya.

Fenomena tersebut, turut didorong oleh tren media sosial seperti TikTok yang justru mempopulerkan buku fisik di kalangan anak muda. Selain itu, buku-buku bertema pengembangan diri, spiritualitas, hingga kesehatan mental juga mengalami lonjakan permintaan secara global. “Semua orang mulai merasa terlalu lelah dengan digitalisasi. Karena itu buku self-help, body, mind, spirit sekarang sangat diminati,” katanya.

Baca Juga:   Papan Skateboard Bekas Disulap Jadi Kacamata Trendi

Antusiasme masyarakat Bali terhadap buku juga terlihat sejak hari pertama pembukaan preview khusus pemegang kartu BCA. Andrew mengaku terkejut melihat antrean panjang warga lokal yang sudah datang sejak pagi. “Hampir 95 persen pengunjung adalah warga lokal Bali dan mereka sudah mengantre sejak pukul 08.00 Wita. Kehausan masyarakat Bali terhadap buku dan literatur itu luar biasa,” pungkasnya.

Vice President Bank Central Asia, Eka Putu Ananta mengatakan bahwa gelaran Big Bad Wolf Bali 2026 tidak hanya menjadi surga bagi pecinta buku, tetapi juga sebagai momentum penting untuk memperkuat budaya literasi sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi kreatif di Bali. Dengan lokasi baru yang lebih luas dan nyaman, penyelenggara bersama pihak pendukung optimistis antusiasme masyarakat akan meningkat signifikan tahun ini.

Perpindahan venue menjadi salah satu langkah strategis untuk menghadirkan pengalaman yang lebih baik bagi pengunjung.
Menurutnya, lokasi baru menawarkan suasana yang lebih nyaman, akses yang lebih baik, hingga kapasitas yang lebih besar dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. “Tahun ini kami optimistis karena lokasi acara lebih luas, view lebih bagus, lebih nyaman, dan waktunya juga lebih panjang. Kami berharap antusiasme masyarakat dan transaksi tahun ini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.

Baca Juga:   Berawal dari Mimpi Jual Buku Murah, Big Bad Wolf Kini Keliling Dunia Sebarkan Demam Membaca

Lebih dari sekadar pameran dan penjualan buku, kegiatan ini juga disebut memiliki peran penting dalam mendorong minat baca masyarakat di tengah derasnya perkembangan teknologi digital. Ia menilai budaya membaca harus terus didorong karena buku masih menjadi sumber pengetahuan yang relevan dan penting bagi semua kalangan. “Kami ingin mendukung peningkatan literasi membaca. Membaca itu sesuatu yang harus terus kita dorong dan dukung, karena buku masih menjadi bagian penting dalam proses belajar dan menambah wawasan,” katanya.

Ia menilai, buku seharusnya tidak dipandang sebagai barang konsumtif biasa, melainkan investasi pengetahuan yang memberikan manfaat jangka panjang. Melalui berbagai promo dan potongan harga yang diberikan, pihaknya berharap masyarakat tetap dapat membeli buku sesuai kemampuan anggaran yang dimiliki, sekaligus menikmati kemudahan transaksi menggunakan layanan perbankan digital.

“Benefit dalam bentuk potongan harga itu kami harapkan bisa membantu masyarakat tetap membeli buku dengan budget yang mereka miliki. Jadi bukan hanya transaksi, tapi juga mendukung literasi,” imbuhnya.

Dengan konsep yang lebih besar dan nyaman, Big Bad Wolf Bali 2026 diharapkan mampu menjadi ruang edukatif yang menghadirkan pengalaman membaca lebih dekat kepada masyarakat, sekaligus memperkuat semangat literasi di Pulau Dewata. (BC5)