balibercerita.com –
Menjelang hari raya Galungan dan Kuningan, suasana kebersamaan kembali terasa di Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan. Melalui program bantuan rutin yang telah menjadi tradisi setiap enam bulan sekali, desa adat menyalurkan sekitar 66 ton beras kepada ribuan krama sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat.
Penyaluran bantuan yang berlangsung pada Minggu (24/5) itu dirangkaikan dengan parum krama desa dan menyasar 2.970 krama yang tersebar di tiga banjar dan 19 tempekan. Sejak pagi, warga tampak berdatangan untuk menerima bantuan yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga menjelang hari raya.
Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta menuturkan program tersebut merupakan komitmen bersama antara Desa Adat Pecatu dan LPD yang terus dijaga secara berkelanjutan. Setiap enam bulan sekali, kedua lembaga itu bergantian menyalurkan bantuan kepada masyarakat sebagai bentuk perhatian terhadap krama desa.
Tahun ini, Desa Adat Pecatu mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,1 miliar untuk merealisasikan program tersebut. Nilainya meningkat dibandingkan periode sebelumnya, seiring adanya penyesuaian harga beras dan kebutuhan penerima.
Berbeda dengan bantuan dalam bentuk paket sembako, desa adat memilih menyalurkan beras karena dianggap sebagai kebutuhan pokok yang paling dibutuhkan seluruh keluarga. Selain lebih tepat sasaran, bantuan juga dapat diterima secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dalam pendistribusiannya, setiap kepala keluarga menerima bantuan dengan jumlah yang berbeda, mulai dari 10 kilogram hingga 25 kilogram. Besaran bantuan disesuaikan dengan kategori krama, mulai dari krama ngarep, ayahan, serep, sebatang kara, duda, janda, pensiunan hingga krama mandiri.
Penyaluran beras juga menjadi langkah antisipatif menghadapi kemungkinan kenaikan harga beras menjelang hari raya. Dengan distribusi yang dilakukan lebih awal, warga diharapkan dapat lebih tenang dalam mempersiapkan kebutuhan Galungan dan Kuningan.
Bagi masyarakat, program ini memiliki makna lebih dari sekadar bantuan pangan. Kehadirannya menjadi simbol kuatnya hubungan antara desa adat dan krama yang terus terjalin melalui semangat gotong royong dan kebersamaan.
Di tengah meningkatnya kebutuhan menjelang hari raya, tradisi berbagi yang terus dijaga Desa Adat Pecatu menjadi cerminan bagaimana lembaga adat tetap hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai penjaga tradisi dan budaya, tetapi juga sebagai penguat kesejahteraan krama. (BC5)
















