balibercerita.com –
Bali kembali menjadi panggung dunia medis. Bali International Neurovascular Intervention Conference (BLINC) 2026 resmi digelar pada 27–28 April di Bali International Convention Centre (BICC) dengan mengusung tema “Stroke Wars: Beyond The Circle.”
Forum internasional ini menghadirkan ratusan tenaga kesehatan dari berbagai negara sebagai ruang kolaborasi lintas profesi dalam membahas penanganan stroke berbasis teknologi terkini. Di bawah kepemimpinan Conference Chair BLINC, dr. Affan Priyambodo, Sp.BS, Subsp.N-Vas, konferensi ini diikuti peserta dari Amerika Serikat, Eropa termasuk Jerman, hingga Asia.
Sebanyak sekitar 400 peserta ambil bagian dalam ajang ini, meningkat 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Mereka tidak hanya berasal dari kalangan dokter, tetapi juga perawat, radiografer, hingga pelaku industri alat kesehatan.
“Penanganan stroke tidak bisa dilakukan oleh satu profesi saja. Ini kerja tim. Ada perawat yang merawat pasien, radiografer yang mengoperasikan alat seperti CT Scan, MRI, dan C-arm, serta industri yang menghadirkan teknologi. Semua punya peran penting,” ujar dr. Affan di sela kegiatan.
BLINC menjadi titik temu tiga disiplin utama, yakni radiologi, neurologi, dan bedah saraf yang berpadu dalam pendekatan neurointervensi. Teknik ini memungkinkan penanganan stroke dilakukan secara lebih canggih dan minim invasif, termasuk melalui penggunaan kateter.
Menurut dr. Affan, radiografer memiliki peran krusial dalam memastikan alat-alat medis berbasis radiasi dan medan magnet dapat digunakan secara optimal dan aman. Sementara perawat menjadi garda depan dalam penanganan pasien, termasuk dalam proses pemulihan. “Kalau perawat fokus ke pasien, radiografer fokus ke alat. Ini satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.
Tak hanya membahas teori, BLINC 2026 juga menjadi ajang berbagi praktik terbaik dari para ahli dunia. Mulai dari teknik terbaru, penggunaan alat medis mutakhir, hingga strategi menangani kasus-kasus kompleks dipaparkan secara mendalam.
Konferensi ini juga menghadirkan agenda khusus bagi tenaga keperawatan melalui simposium sehari penuh, sebagai upaya meningkatkan kapasitas seluruh elemen tenaga kesehatan. Kehadiran industri alat kesehatan turut memperkaya forum dengan menampilkan berbagai inovasi terbaru untuk mendukung tindakan neurointervensi. “Industri membawa inovasi alat dan kita belajar bagaimana menggunakannya secara tepat. Ini bagian dari kolaborasi,” tambahnya.
Ia menegaskan, Indonesia masih membutuhkan lebih banyak tenaga ahli di bidang neurointervensi. Dengan tingginya kasus stroke, peningkatan kompetensi melalui kolaborasi global menjadi langkah penting. “Kita bisa belajar bagaimana mereka melakukan tindakan, mengatasi masalah, hingga melihat data yang mereka miliki. Ini penting untuk meningkatkan kompetensi dokter di Indonesia,” ujarnya.
Selain menjadi ajang pertukaran ilmu, BLINC 2026 juga memperkuat posisi Bali sebagai pusat kegiatan ilmiah internasional. Tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata, Bali diharapkan mampu menjadi pusat pengembangan ilmu kedokteran, khususnya dalam penanganan stroke. “Sekarang kita belajar dari mereka, ke depan kita berharap mereka juga bisa belajar dari kita,” pungkas dr. Affan.
Sementara itu, Co-Chair BLINC, Dr. dr. Kumara Tini, Sp.S(K), FINS, FINA, menambahkan bahwa perkembangan ilmu vaskular kini semakin luas dan tidak lagi eksklusif. Banyak penyakit dapat ditangani dengan teknik berbasis kateter yang lebih efektif dan minim risiko.
Namun, ia mengingatkan masih adanya tantangan dalam pemerataan tenaga medis di Indonesia. Wilayah terpencil seperti Papua dan daerah kepulauan lainnya masih menghadapi keterbatasan akses layanan spesialis. “Bukan hanya jumlah, tapi pemerataan. Kita ingin daerah-daerah juga memiliki tenaga ahli sendiri agar penanganan bisa lebih cepat dan optimal,” tegasnya. (BC5)

















