
balibercerita.com –
Tumor otak masih menjadi salah satu penyakit serius yang kerap luput dari perhatian masyarakat. Selain jumlah kasusnya yang tinggi, dampaknya terhadap fungsi tubuh juga sangat besar, bahkan bisa berujung fatal jika tidak ditangani sejak dini.
Dokter Spesialis Bedah Saraf, dr. Steven Awyono, Sp.BS, FTO mengungkapkan bahwa tumor otak merupakan salah satu kasus terbanyak yang ditangani di bidang bedah saraf setelah trauma. “Secara jenderal kasus tumor otak itu sangat tinggi. Karena jumlahnya banyak dan dampaknya ke fungsional kita itu sangat besar. Kalau di bedah saraf, selain trauma yang nomor satu, yang kedua adalah tumor otak,” jelasnya saat acara Focus Group Discussion Kasih Ibu Hospital Kedonganan yang bertema meningkatkan literasi publik tentang tumor otak pada Senin (20/4).
Ia menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar lebih memahami penyakit ini, mulai dari mengenali gejala awal hingga langkah penanganannya. Hal ini penting untuk mencegah keterlambatan penanganan yang dapat berdampak serius bagi kesehatan.
Salah satu gejala awal yang paling sering muncul adalah sakit kepala. Namun, keluhan ini sering dianggap sepele karena mudah reda dengan obat pereda nyeri yang dijual bebas. “Sakit kepala itu gejala yang sangat abu-abu dan sering diabaikan. Minum obat, hilang. Nanti sakit lagi, minum obat lagi, hilang lagi. Bahkan sampai dosis ditambah, gejala tetap bisa hilang sementara,” ujarnya.
Padahal, sakit kepala bisa menjadi indikasi tumor otak jika bersifat kronis (berkepanjangan) dan progresif (semakin lama semakin berat). Ia mengingatkan, jika kebutuhan obat semakin meningkat untuk meredakan nyeri, hal tersebut menjadi sinyal bahwa kondisi perlu diperiksa lebih lanjut.
Meski demikian, tidak semua tumor otak menimbulkan sakit kepala. Pada beberapa kasus, terutama jika tumor berada di area vital, gejala awal justru berupa gangguan fungsi lain tanpa disertai nyeri. Dari sisi deteksi dini, skrining rutin sebenarnya dianjurkan, terutama bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun. Di beberapa negara, pemeriksaan dilakukan setiap lima tahun sekali.
Namun, biaya yang cukup tinggi masih menjadi kendala di Indonesia. “Kita harapkan ke depan ada dukungan pemerintah untuk screening, baik untuk tumor otak maupun penyakit lain seperti stroke, agar bisa dideteksi sejak awal,” katanya.
Kelompok usia berisiko juga perlu diperhatikan. Pada wanita, beberapa kasus tumor otak berkaitan dengan faktor hormonal, seperti penggunaan kontrasepsi, yang umumnya terjadi pada usia 30–40 tahun. Sementara secara umum, usia di atas 40 tahun disarankan untuk mulai melakukan skrining rutin.
Dalam penanganannya, pasien tumor otak yang menjalani operasi membutuhkan perawatan intensif pasca tindakan. Rata-rata pasien dirawat di ICU selama 2–3 hari, terutama jika operasi berlangsung lebih dari enam jam. “Setelah operasi otak, kita tidak bisa langsung memaksa otak bekerja maksimal. Harus dipulihkan secara perlahan,” jelasnya.
Penanganan ini juga melibatkan tim medis khusus, termasuk dokter neuro-anestesi yang berperan menjaga kondisi otak tetap optimal selama proses operasi berlangsung. Hal ini membuat penanganan tumor otak berbeda dengan operasi biasa dan berdampak pada biaya yang lebih besar.
Selain itu, terdapat risiko komplikasi seperti gangguan ingatan akibat manipulasi jaringan otak saat operasi. Untuk memastikan kondisi pasien, dilakukan pemeriksaan ulang melalui CT Scan atau MRI guna mendeteksi kemungkinan pendarahan pasca operasi.
Perkembangan teknologi turut membantu tim medis dalam membedakan jaringan tumor dan jaringan sehat saat tindakan operasi, sehingga risiko komplikasi dapat ditekan seminimal mungkin. Tingginya jumlah kasus juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam satu rumah sakit, jumlah pasien baru tumor otak bisa mencapai sekitar 10 orang per minggu, sementara kapasitas operasi masih terbatas. “Kondisi ini menunjukkan perlunya penambahan tenaga spesialis bedah saraf agar penanganan bisa lebih optimal,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa tumor otak dapat menjadi kondisi gawat ketika ukurannya membesar dan menekan struktur otak. Pergeseran hingga ke batang otak dapat menyebabkan penurunan kesadaran bahkan kematian. “Batang otak itu pusat vital. Kalau sampai bergeser, risikonya bisa sangat fatal,” tegasnya.
Tingginya risiko tersebut membuat tumor otak masuk dalam program prioritas pemerintah melalui KJSU (kanker, jantung, stroke, dan urologi) karena memiliki angka kematian yang cukup tinggi. Meski demikian, tidak ada pantangan makanan khusus bagi penderita tumor otak. Yang terpenting adalah tidak mengabaikan gejala, melakukan pemeriksaan sejak dini, dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Direktur RS Kasih Ibu Kedonganan, dr. Ni Putu Ayu Utari Laksmi mengatakan bahwa tumor otak merupakan penyakit yang cukup unik karena hingga kini penyebab pastinya masih belum dapat dipastikan, sehingga upaya pencegahan juga belum bisa ditentukan secara spesifik. “Tumor otak ini unik ya. Jadi secara pencegahan, mungkin masih belum bisa dipastikan lagi karena cause-nya juga masih belum bisa ditemukan. Jadi kita ingin memberikan informasi kepada seluruh masyarakat betapa pentingnya tumor otak, dan bagaimana penanganan awal serta tindak lanjutnya bagi teman-teman yang mengalami kondisi ini. Jadi kita angkat materi ini karena saya kira dampaknya pun apabila terlambat dilakukan penanganan cukup krusial bagi kesehatan,” ujarnya.
Dari sisi layanan, RS Kasih Ibu Kedonganan telah menyiapkan fasilitas diagnostik yang memadai untuk mendukung penanganan pasien tumor otak sejak dini. “Secara diagnosa awal tentu yang MRI. Kita sudah siapkan untuk diagnostik layanan CT Scan maupun MRI. Kemudian untuk pembedahan sendiri juga kita sudah siapkan di kamar operasi, baik secara fasilitas medis maupun non-medis sudah bisa mendukung sehingga pasien-pasien yang datang dengan diagnosa tersebut sudah bisa dikerjakan dengan baik di sini,” jelasnya.
Terkait biaya, dr. Utari mengakui bahwa penanganan tumor otak membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tergantung pada tingkat keparahan kondisi pasien. “Tentu tumor kepala ini seperti tadi memang cukup mahal biayanya. Mungkin range pasti kisaran Rp50 juta ke atas. Karena beberapa kondisi bisa dilihat apakah kondisinya berat ataupun masih awal. Kalau memang semakin berat kondisinya, semakin besar tumornya, tentu penanganannya akan lebih sulit. Ya sudah pasti pemakaian obat, kemudian hal-hal lain juga akan mengikuti, maka secara biaya juga akan lebih besar,” pungkasnya. (BC5)
















