balibercerita.com –
Pameran seni bertajuk “Semburat Bali” di Nuanu Creative City menghadirkan perspektif berbeda tentang pengalaman hidup, alam, hingga dinamika sosial melalui karya dua seniman perempuan. Pameran yang berlangsung di Labyrinth Art Gallery ini menampilkan karya dari Wicitra Pradnyaratih dan Sarita Ibnoe hingga 22 Maret 2026.
Melalui pendekatan artistik yang berbeda, kedua seniman tersebut menghadirkan karya yang tidak hanya bersifat visual, tetapi juga mengandung refleksi personal tentang pengalaman perempuan dalam memandang dunia di sekitarnya.
Wicitra Pradnyaratih, seniman berbasis di Bali dengan latar belakang desain grafis, mengembangkan praktik seninya dengan memadukan medium digital dan lukisan akrilik. Dalam karya-karyanya, ia mengeksplorasi hubungan antara alam, warna, serta elemen suara melalui pendekatan audio-visual.
Dalam pameran ini, Wicitra menampilkan karya Tideglow dan Midnight Bloom yang merefleksikan hubungan antara waktu, siklus kehidupan, dan kekuatan alam yang sering hadir secara sunyi. Melalui konsep yang ia sebut feminine landscape, Wicitra membangun lanskap visual yang menonjolkan sisi organik dan emosional dari alam.
Dalam karya Midnight Bloom, motif bunga seperti anggrek dan lili dihadirkan sebagai simbol ketahanan dan ketekunan. Bunga tidak lagi ditampilkan sekadar sebagai ornamen, melainkan sebagai representasi kekuatan, individualitas, serta kompleksitas pengalaman perempuan. “Persoalannya bukan pada kapasitas perempuan, melainkan pada terbatasnya akses dan kesempatan yang seharusnya terbuka bagi siapa pun,” ujar Wicitra.
Sementara itu, seniman multidisipliner, Sarita Ibnoe menghadirkan karya yang berakar pada praktik tekstil, khususnya teknik tenun. Dari medium tersebut, karyanya berkembang ke berbagai bentuk ekspresi seperti instalasi, performans, hingga karya partisipatori.
Dalam pameran ini, Sarita menampilkan sejumlah karya seperti Unaccustomed, The New Art Teacher Series – Non-Technical Skills: Gestures and Watercolour #1, Resistance, serta Note. Karya-karya tersebut merefleksikan perjalanan personal sekaligus respons terhadap berbagai peristiwa sosial yang terjadi di masyarakat. Salah satu karya yang menarik perhatian adalah Resistance, yang terinspirasi dari gelombang gerakan resistensi sosial di Jakarta.
Melalui karya ini, Sarita menghadirkan refleksi sekaligus penghormatan terhadap peristiwa tersebut, dengan penggunaan warna hijau dan merah muda sebagai simbol solidaritas dan kekuatan kolektif masyarakat. “Perempuan kini tidak hanya hadir sebagai pencipta karya, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem seni, sebagai kurator, peneliti, pendidik, hingga penghubung komunitas,” jelas Sarita.
Gallery Manager Labyrinth Art Gallery, Samuel David mengatakan bahwa galeri tidak hanya menjadi tempat memamerkan karya, tetapi juga ruang untuk membangun percakapan kreatif antara seniman dan publik. “Galeri bukan hanya tempat memamerkan karya, tetapi juga ruang untuk membangun percakapan. Kami ingin menghadirkan seniman dari berbagai latar belakang dan memberikan ruang bagi perspektif yang beragam,” ujarnya.
Melalui pameran ini, Nuanu Creative City kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang seni yang inklusif, di mana berbagai gagasan dan perspektif dapat bertemu serta berkembang dalam ekosistem kreatif yang dinamis. (BC5)















