Klungkung, balibercerita.com –
Merana merupakan istilah masyarakat Hindu di Bali terhadap penyakit yang mewabah di masyarakat. Berkaitan dengan pandemi Covid-19 yang juga merupakan wabah global saat ini, maka menjadi suatu kewajiban masyarakat untuk menggelar upacara nangluk merana.
Salah satu desa di Bali yang melaksanakan upacara tersebut adalah Desa Adat Pangi, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Upacara yang digelar pada tanggal 5 Desember lalu itu dilaksanakan mengambil 2 lokasi. Yaitu Pura Puseh sebagai lokasi upacara nangluk merana dan Pura Balang Tamak sebagai lokasi upacara pecaruan amanca untuk nyomia bhuta kala. Ida Sesuhunan atau tapakan yang berupa barong, rangda, dan rarung tedun dalam ritual tersebut. Prosesi nyomia bhuta kala juga dilakukan di masing-masing luar rumah warga dengan menghaturkan sesajen.
Menurut keterangan Kelian Banjar Pangi, Komang Sukawana, upacara nyomia bhuta kala bertujuan menjaga keharmonisan alam. Upacara itu dilaksanakan setiap tahun sekali, tepatnya pada rahinan Kajeng Kliwon Sasih Kanem. Ia berharap melalui upacara ini pandemi cepat berlalu, sehingga masyarakat bisa beraktivitas kembali dengan normal. “Warga yang bersembahyang juga dihaturkan banten prastista untuk pembersihan diri secara niskala,” ungkapnya.
Bendesa Adat Pangi, I Ketut Suartika menyampaikan, prosesi nyomia bhuta kala tahun ini berbeda dengan biasanya. Kali jni, Ida Sesuhunan yang malinggih di Pura Puseh akan langsung macecingak di wilayah desa adat. Proses macecingak dengan nyomia bhuta kala dilakukan setelah berakhirnya upacara pecaruan.
Ida Tapakan macecingak dari ujung selatan hingga ujung utara desa. Selama prosesi macecingak, masyarakat diminta menghaturkan sesajen berupa banten segehan agung yang dihaturkan di depan pekarangan rumah (lebuh). Jika rumah warga berada di dalam gang, mereka diminta menghaturkannya dari depan gang masing-masing. Setelah prosesi macecingak, tapakan atau sesuhunan pun langsung masineb di Pura Puseh Desa Adat Pangi. “Jadi sepanjang gang dan sepanjang rumah warga yang ada di pinggir jalan pasti memberi sesajen di depan rumahnya. Sebelum dilakukan nyomia, dipercikkan tirta dari Pura Balang Tamak dan diiringi gamelan baleganjur,” pungkasnya. (BC5)















