Mangupura, balibercerita.com –
Museum Pasifika menggelar lokakarya internasional intensif bertajuk “Cultural Heritage Digitization and Preservation: Adapt and Thrive in Cultural Digitization Environments” pada 15–16 Agustus 2025 di kawasan The Nusa Dua, Kuta Selatan. Kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk membahas tantangan serta peluang digitalisasi warisan budaya di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Lokakarya ini terselenggara berkat kolaborasi Museum Pasifika dengan Shanghai Jiao Tong University (Tiongkok) dan RMIT University (Australia & Vietnam). Para pakar internasional di bidang digitalisasi museum, etika AI, dan pelestarian budaya turut hadir, membagikan pengetahuan dan praktik terbaik kepada profesional museum, akademisi, dan mahasiswa dari berbagai negara.
Peserta memperoleh keterampilan praktis dalam digitalisasi 3D, digital storytelling, serta kajian etis terkait hak cipta dan penggunaan AI dalam dunia museum.
Staf pengajar ISI Yogyakarta, Mikke Susanto menyoroti pentingnya pembahasan etika komunikasi dan hak kepemilikan dalam digitalisasi karya seni. Menurutnya, teknologi seperti AI telah membawa dampak besar terhadap tata kelola koleksi museum.
“Ketika pengunjung memotret atau merekam karya seni, pertanyaannya adalah siapa pemilik file digital tersebut? Apakah museum, seniman, atau individu yang merekamnya?” ujar Mikke saat ditemui di lokasi.
Ia menambahkan bahwa lokakarya ini juga membahas bagaimana negara-negara seperti Tiongkok, Vietnam, dan Australia mengatur hak cipta dalam konteks digital. Hal ini menjadi penting untuk mencegah konflik hukum di masa depan seiring berkembangnya sistem duplikasi dan replikasi karya seni.
I Made Marlowe Makaradhwaja Bandem, penggagas Arsip Bali 1928, mengungkapkan bahwa dunia digital tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan budaya, tetapi juga arena untuk menciptakan ekspresi budaya baru yang relevan dengan generasi muda. “Kita tidak hanya mendigitalisasi seni budaya, tapi juga memastikan narasinya lengkap dan berkelanjutan. Bahkan kita bisa menciptakan tradisi baru di dunia digital,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa tantangan utama dalam digitalisasi adalah menjaga nilai-nilai budaya lokal, khususnya Bali, agar tetap menjadi landasan dalam setiap proses adaptasi teknologi.
Dr. Emma Duester dari Shanghai Jiao Tong University menyebut bahwa masih sedikit museum yang memiliki koleksi digital yang dapat diakses luas. Pihaknya kini bekerja di wilayah Asia Tenggara seperti Kamboja, Indonesia, Laos, dan Vietnam untuk memperluas aksesibilitas warisan budaya melalui digitalisasi. “Tujuannya adalah agar generasi mendatang bisa menikmati dan belajar dari warisan budaya, baik melalui patung, arsitektur, maupun artefak digital,” jelasnya.
Selain memberikan pelatihan keterampilan digital, Dr. Duester juga membekali peserta dengan pemahaman tentang etika AI, digital curation, dan storytelling digital untuk menarik audiens baru, termasuk generasi muda dan komunitas internasional.
Lokakarya ini dibagi ke dalam empat sesi utama yang menghadirkan pembicara ternama yakni Dr. Emma Duester (Shanghai Jiao Tong University), Mrs. Michal Teague (RMIT Vietnam), Dr. Tammy Wong Hulbert (RMIT Australia), dan Mr. Ondris Pui (RMIT University)
Mereka membawakan materi seputar etika penggunaan AI dalam pelestarian budaya, digital storytelling untuk artefak, kurasi digital berbasis pengalaman Australia, serta teknik pemindaian 3D berbiaya rendah.
Direktur Operasional Museum Pasifika, Kadek Glady Laksmi Sugiri menyampaikan bahwa pihaknya terus berkomitmen menjadi jembatan antara tradisi dan inovasi. “Melalui lokakarya ini kami ingin membekali para pelaku budaya dan generasi penerus dengan keterampilan yang relevan dan berkelanjutan, agar warisan budaya bisa dinikmati oleh masyarakat luas melalui teknologi digital,” pungkasnya.
Kolaborasi lintas negara ini memperkuat posisi Museum Pasifika sebagai pusat pelestarian budaya di kawasan Asia-Pasifik dan sebagai pionir dalam integrasi teknologi dengan pelestarian budaya tradisional. (BC5)
















