Tantangan DLHK Tangani Sampah Kiriman di Pesisir Barat

0
215
Sampah kiriman yang menumpuk di Pantai Kuta, Selasa (7/12). (BC5)
Sampah kiriman yang menumpuk di Pantai Kuta, Selasa (7/12). (BC5)

Mangupura, balibercerita.com –

Cukup banyak tantangan yang dihadapi DLHK Badung dalam menangani sampah kiriman tahun ini. Selain pandemi Covid-19 yang berdampak pada rasionalisasi anggaran, petugas juga dihadapkan dengan kondisi alam yang kurang bersahabat. Upaya pembersihan sampah kiriman pun belum optimal. Dari pantauan di lapangan, Rabu (8/12), sejumlah sampah masih berserakan di bibir pantai.

Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung, Putu Suantara tidak memungkiri bahwa upaya penanganan sampah kiriman belum maksimal dilakukan. Sebab hal itu dihadapkan dengan kondisi pasang air laut yang masih cukup tinggi, terlebih banjir rob beberapa kali terjadi. Alhasil, pengangkutan sampah dari bibir pantai menyesuaikan dengan kondisi pasang laut.

Baca Juga:   Desa Adat Legian Akan Gelar Ritual Ngerehang, Lampu Jalan Direncanakan Dipadamkan

“Kami terus berupaya mengurai sampah kiriman menyesuaikan kondisi di lapangan. Mana titik yang memungkinkan, di sana kita arahkan penanganan. Jadi kami lakukan pembersihan secara berpindah-pindah. Mana titik yang tidak pasang maka itu yang kami tangani,” ungkapnya didampingi staf DLHK Badung, I Made Gede Dwipayana.

Diakuinya, sampah kiriman di pesisir barat kini lebih banyak menepi di wilayah Pantai Seminyak, Legian, dan Kuta (Samigita). Oleh karena itu, pihaknya masih berkonsentrasi mengurai masalah sampah kiriman di pantai tersebut, khususnya di Pantai Kuta dan Legian. Saat ini sampah kayu besar sudah mulai muncul di kedua pantai tersebut, seiring dengan munculnya banjir rob. Sampah kayu yang paling besar berdiameter hingga 80 cm dengan panjang 3 meter.

Baca Juga:   Kerambitan Jadi Kecamatan Pertama di Tabanan Capai 100 Persen Pembentukan Posbankum

Dua alat loader dan satu beach cleaner diakuinya standby di lokasi tersebut. Hal itu dibantu dengan pengerahan ratusan tenaga penyapuan, untuk penanganan sampah kiriman pada pagi hari. Sampah dibawa ke tempat penampungan sementara atau stop over (STO). Selanjutnya, pengangkutan ke TPA dilakukan secara bertahap. Adapun sampah yang diprioritaskan diangkut terlebih dahulu adalah sampah nonorganik dan residu. Sebab untuk sampah kayu dan ranting, hal itu sering diambil masyarakat.

Baca Juga:   Tangani Sampah Saat Pengerupukan, DLHK Badung Terjunkan 600 Personel

“Sejauh ini ada sebanyak 70 ton sampah yang ditempatkan di sana. Sebanyak 40 ton sampah ditempatkan di STO Setra Asem Celagi Kuta dan 30 ton do STO Camplung Tanduk Seminyak,” imbuhnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini