Mangupura, balibercerita.com –
Bukti nyata inklusi di dunia kerja datang dari SLB Negeri 1 Badung yang tahun ini meluluskan 24 siswa dengan beragam kebutuhan khusus. Tak sekadar lulus, sejumlah siswa bahkan telah diterima bekerja di sektor industri, termasuk hotel bintang lima seperti The Westin Resort Nusa Dua.
Ini menandai pencapaian luar biasa dalam upaya membuktikan bahwa penyandang disabilitas mampu bersaing secara profesional jika diberi kesempatan dan pelatihan yang tepat. Dalam acara “Gebyar Prestasi Talenta Siswa (Gempita) 3″ yang digelar Kamis (19/6), karya-karya siswa dipamerkan, mulai dari kriya kayu hingga kerajinan tangan yang mencerminkan keterampilan spesifik hasil pembinaan intensif dari pihak sekolah.
Kepala SLB Negeri 1 Badung, Ni Nyoman Suwastarini mengungkapkan bahwa sebagian lulusan telah menunjukkan performa kerja memuaskan di sektor pariwisata. “Anak-anak kami ada yang bekerja di bagian engineering dan kitchen hotel bintang lima. Bahkan ada yang sudah dipercaya di unit housekeeping vila-vila di sekitar Badung. Ini sangat membanggakan,” ujarnya.
Ia menegaskan, kunci dari keberhasilan tersebut adalah penyesuaian pembelajaran berdasarkan asesmen individu siswa. “Jika anak hanya bisa menganyam tali, kami kembangkan jadi produk bernilai jual seperti gantungan kunci. Kalau bisa mengoperasikan alat kerja, kami latih kriya kayu,” jelas Suwastarini.
Tak hanya langsung bekerja, beberapa siswa juga memilih untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau membangun usaha rumahan sesuai keterampilan masing-masing. Dari total 245 siswa di sekolah tersebut, sekitar 60 di antaranya dinilai sangat terampil dan siap kerja.
Untuk memperluas peluang kerja bagi para lulusan, sekolah terus membangun kemitraan dengan dunia industri. Suwastarini berharap masyarakat dan pelaku usaha semakin terbuka menerima talenta dari siswa berkebutuhan khusus. “Kami ingin dunia usaha menilai anak-anak kami dari kemampuannya, bukan dari keterbatasannya,” tegasnya.
Acara kelulusan tahun ini menjadi bukti bahwa dengan pendekatan pendidikan yang tepat, siswa berkebutuhan khusus tidak hanya bisa mandiri, tapi juga memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan dan industri. (BC5)



















