
balibercerita.com –
Suasana Desa Adat Kapal, Senin (6/10) sore, terasa lebih meriah dari biasanya. Bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat, warga kembali melaksanakan upacara sakral Aci Tabuh Rah Pengangon atau lebih dikenal sebagai Siat Tipat Bantal. Tradisi warisan leluhur ini telah berlangsung secara turun-temurun sejak tahun 1338 Masehi, dan pada 2025 ini tercatat sudah digelar untuk yang ke-1.687 kalinya.
Upacara ini dipercaya sebagai wujud permohonan kesuburan bagi tanah dan kesejahteraan bagi masyarakat Kapal. Menurut kisahnya, tradisi ini lahir ketika daerah tersebut pernah dilanda masa paceklik panjang.
Sebelum prosesi utama berlangsung, dilaksanakan peed pamendak tirta dari Pura Purusada menuju Pura Desa lan Puseh. Setelah persembahyangan bersama, barulah ritual Aci Tabuh Rah Pengangon digelar di area pura tersebut. Namun, karena antusiasme masyarakat yang begitu tinggi, Siat Tipat Bantal juga dilakukan di depan pura, melibatkan ribuan warga dari 18 banjar.
Tahun ini, pelaksanaan tradisi semakin semarak dengan berbagai lomba kreatif seperti penjor hias, pembuatan cane atau gebogan bunga, pembuatan tipat, serta lomba membuat lawar.
Bendesa Adat Kapal, Ketut Sudarsana menuturkan bahwa tradisi ini telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat setempat. Digelar setiap tahun, upacara ini tak lain bertujuan untuk memohon kesejahteraan bagi masyarakat, khususnya di Desa Adat Kapal.
Ia menjelaskan, asal mula Aci Tabuh Rah Pengangon terjadi pada masa pemerintahan Ida Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Saat itu, sang raja mengutus patihnya, Ki Kebo Taruna atau Kebo Iwa, untuk memperbaiki Pura Purusada di Kapal. Namun ketika Kebo Iwa tiba, wilayah tersebut tengah dilanda musibah dan kekeringan.
Dalam situasi genting itu, Kebo Iwa memohon petunjuk kepada Ida Batara di Pura Purusada dan mendapatkan wahyu agar dilaksanakan sebuah upacara persembahan untuk Sang Hyang Siwa. “Persembahan tersebut diwujudkan dengan mempertemukan Purusa dan Pradana disimbolkan tipat dan bantal sehingga lahirlah tradisi Aci Tabuh Rah Pengangon. Jadi pertemuan antara purusa dan pradana akan melahirkan kehidupan baru,” terangnya.
Menurut Sudarsana, Siat Tipat Bantal kini menjadi daya tarik tersendiri, tidak hanya bagi warga Badung tetapi juga wisatawan. Disebut siat (perang) tipat bantal, karena “senjata” yang digunakan adalah tipat (ketupat dari beras) dan bantal (ketupat dari beras ketan). Pada intinya, hal ini diibaratkan seperti wanita bertemu dengan seorang laki-laki yang akan menghasilkan kehidupan baru. (BC9)















