balibercerita.com –
Upaya memulihkan kawasan hutan di Bali mulai digerakkan dari lereng Batukaru. Sebanyak 100 pohon ditanam di lahan seluas 1.000 meter persegi di kawasan Pura Luhur Batukaru, Tabanan, sebagai bagian dari program reforestasi yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.
Penanaman ini menjadi tahap awal program rehabilitasi yang tidak hanya berorientasi pada jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga memastikan pohon dapat tumbuh dan memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.
Sebanyak 100 pohon yang ditanam terdiri atas 30 pohon beringin, 50 mahoni, dan 20 cempaka (Magnolia champaca). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program reforestasi Dinas Kehutanan Provinsi Bali dengan dukungan Nuanu Social Fund dan Bali Tourism Board.
Dukungan Nuanu Social Fund tidak berhenti pada penyediaan bibit dan proses penanaman. Pemeliharaan serta pemantauan akan dilakukan selama 12 bulan. Perawatan meliputi penyiraman, penggantian bibit yang tidak bertahan hidup hingga perlindungan kawasan tanam. Hasil pemantauan tingkat keberhasilan hidup pohon tersebut nantinya akan dipublikasikan pada September 2027.
Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Ketut Subandi mengatakan, keberhasilan reforestasi tidak semata-mata diukur dari jumlah pohon yang ditanam. “Reforestasi tidak cukup hanya dengan menghitung berapa banyak pohon yang ditanam. Yang lebih penting adalah memastikan kawasan kembali memiliki fungsi ekologis yang baik,” ujarnya.
Batukaru menjadi salah satu kawasan prioritas karena memiliki fungsi penting sebagai kawasan tangkapan air. Lereng Gunung Batukaru menopang sekitar 20 sistem irigasi subak di kawasan Catur Angga Batukaru serta tujuh desa, yakni Jatiluwih, Tengkudak, Penatahan, Tegalinggah, Rejasa, Sangketan, dan Wongaya Gede.
Berkurangnya tutupan vegetasi di kawasan hulu berpotensi menurunkan kemampuan tanah menyimpan air sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap erosi. Dampaknya dapat berlanjut hingga kawasan pertanian di bagian bawah.
Pemilihan jenis pohon dilakukan bersama Dinas Kehutanan Provinsi Bali dan tenaga teknis setempat dengan mempertimbangkan kondisi tanah serta lingkungan Batukaru. Pohon beringin juga memiliki keterkaitan dengan kawasan pura dan lanskap budaya Bali.
Pelaksanaan program dikoordinasikan bersama bendesa adat, pangempon Pura Luhur Batukaru, serta pemerintah desa setempat. Masyarakat sekitar juga dilibatkan dalam pemeliharaan, pemantauan, penyediaan tenaga kerja hingga pengambilan keputusan selama program berlangsung.
Head of Nuanu Social Fund, Auditya Sari menegaskan, masa setelah penanaman justru menjadi bagian penting dari program reforestasi. Ia menyebut pihaknya akan mendanai proses pemeliharaan selama satu tahun dan mempublikasikan hasilnya secara terbuka. “Reforestasi tidak selesai ketika pohon selesai ditanam. Justru sebagian besar kebutuhan pemeliharaan dan risikonya berada pada saat setelah penanaman,” katanya.
Sementara itu, Chairman Bali Tourism Board, Ida Bagus Agung Partha Adnyana menilai keterlibatan sektor pariwisata dalam pelestarian kawasan tangkapan air merupakan bagian dari kepentingan industri itu sendiri. Menurutnya, air yang digunakan hotel, restoran dan vila di Bali pada dasarnya bergantung pada kawasan yang mampu menyerap dan menyimpan air hujan, termasuk kawasan lereng Batukaru. “Industri pariwisata memiliki kepentingan langsung terhadap kemampuan kawasan tangkapan air ini untuk tetap berfungsi,” ujarnya.
Penanaman dijadwalkan berlangsung hingga 2 September 2026. Selanjutnya, pertumbuhan dan tingkat keberhasilan hidup pohon akan dipantau selama 12 bulan. Hasil pemantauan akan dipublikasikan pada September 2027.
Program tersebut diharapkan menjadi contoh kolaborasi yang dapat diterapkan di kawasan lain, dengan menempatkan pemerintah sebagai pengarah program, masyarakat sebagai penjaga lanskap, serta sektor swasta dan pariwisata sebagai mitra pendukung rehabilitasi hutan Bali. (BC5)


















