Road to The Nusa Dua Festival 2025, ITDC Ajak Masyarakat Hijaukan Pudut Lewat Penanaman Mangrove

0
188
The Nusa Dua Festival
Suasana penanaman mangrove di Pulau Pudut. (ist)

balibercerita.com –
Menjelang gelaran The Nusa Dua Festival 2025, suasana semangat hijau mulai terasa di kawasan selatan Bali. Sebagai bagian dari rangkaian Road to The Nusa Dua Festival, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) melalui The Nusa Dua bersama UPTD Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai menanam 320 pohon mangrove jenis Rhizophora Mucronata di area Pudut, Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Badung, Jumat (17/10).

Kegiatan ini menjadi simbol harmoni antara alam dan pariwisata, sejalan dengan tema festival tahun ini “Beauty in Harmony” yang mengajak masyarakat untuk tidak hanya menikmati keindahan Bali, tetapi juga ikut menjaganya. Penanaman dilakukan menggunakan metode “api-api”, teknik ramah lingkungan yang membantu proses sedimentasi alami dan melindungi bibit dari hama.

Baca Juga:   Jaga Citra Destinasi Pariwisata Badung, LPJ Padam Perlu Cepat Ditangani

Menariknya, pola tanam mangrove dibentuk menyerupai huruf “ITDC”, sebagai tanda kontribusi nyata perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan. “Kami ingin membawa semangat hijau menuju The Nusa Dua Festival 2025. Kegiatan ini bukan sekadar penanaman, tapi wujud nyata bagaimana pariwisata dan alam bisa tumbuh bersama,” ujar I Made Agus Dwiatmika, General Manager The Nusa Dua.

Ia percaya pariwisata yang baik bukan hanya tentang kemewahan, tapi juga tentang keseimbangan. Karena itu, pihaknya mengajak semua pihak untuk ikut menjaga harmoni antara manusia dan alam.

Baca Juga:   Puncak Perayaan HKG PKK, Bupati Tabanan Kenang Peran Penting Perempuan saat Pandemi Covid-19

Melalui kegiatan ini, ITDC mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari perjalanan menuju The Nusa Dua Festival 2025, sebuah perayaan seni, budaya, musik, dan gaya hidup berkelanjutan yang akan digelar pada 25–26 Oktober mendatang di Peninsula Island, The Nusa Dua. “Kami ingin festival ini bukan hanya pesta hiburan, tetapi juga gerakan bahwa pariwisata yang indah adalah pariwisata yang selaras dengan alam,” pungkas Agus Dwiatmika.

Area Pudut sendiri memiliki kisah menarik. Dulu, kawasan mangrove ini hampir hilang akibat abrasi dan aktivitas manusia, dari luas 14 hektare di tahun 1970-an, menyusut menjadi hanya beberapa meter persegi. Namun, berkat upaya rehabilitasi selama 15 tahun terakhir, kawasan ini kini kembali pulih hingga mencapai 3 hektare.

Baca Juga:   Perempuan Pengusaha Diharapkan Tingkatkan Kontribusi pada Pertumbuhan Ekonomi Nasional 

Kepala UPTD Tahura Ngurah Rai, I Putu Agus Juliartawan, S.Hut, menyambut positif langkah ITDC yang terus konsisten menjaga lingkungan pesisir. “Area Pudut adalah benteng alami Bali. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa menjaga alam bisa berjalan seiring dengan pengembangan pariwisata. Kami berharap kegiatan ini menginspirasi masyarakat untuk ikut berperan dalam pelestarian mangrove,” ujarnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini