Red Bull Cliff Diving World Series, 24 Atlet Dunia Siap Taklukkan Tebing Broken Beach Nusa Penida

0
11
Red Bull Cliff Diving
Jadwal Red Bull Cliff Diving World Series 2026. (ist)

balibercerita.com –
Sebanyak 24 atlet terbaik dunia siap menampilkan aksi akrobatik ekstrem dalam ajang final Red Bull Cliff Diving World Series di Broken Beach, Nusa Penida, Sabtu (23/5). Para atlet akan meloncat dari tebing setinggi 27 meter untuk kategori pria dan 21 meter untuk kategori wanita langsung ke perairan Samudera Hindia dengan kecepatan jatuh yang bisa mencapai 85 kilometer per jam.

Sebelum menaklukkan tebing ekstrem Nusa Penida, para atlet terlebih dahulu diajak merasakan suasana budaya Bali. Sehari setelah tiba di Indonesia pada Senin (18/5), atlet dari 14 negara mengikuti permainan tradisional khas perayaan 17 Agustus berupa lomba memasukkan pensil ke dalam botol untuk menentukan urutan loncatan.

Dari permainan tersebut, atlet asal Prancis Gary Hunt untuk kategori pria dan atlet Belanda Ginni van Katwijk untuk kategori wanita mendapat giliran loncat pertama. Suasana penuh tawa dan keakraban langsung terasa di antara para atlet dunia itu.

“Kami mendengar Indonesia memiliki banyak permainan tradisional yang seru. Ini pertama kalinya saya mencoba permainan seperti ini dan ternyata sangat menyenangkan. Saya memang suka permainan-permainan unik, jadi kami benar-benar menikmati pengalaman ini,” ujar atlet asal Australia-Filipina, Xantheia Pennisi.

Tidak hanya mengikuti permainan tradisional, para atlet juga diajak lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Bali melalui berbagai aktivitas budaya, mulai dari merangkai canang sari, membatik, hingga mencicipi aneka jajanan di pasar tradisional. Nuansa budaya Bali pun akan terus hadir sepanjang rangkaian kompetisi di Broken Beach pada 22–23 Mei. Suasana pertandingan akan diwarnai alunan musik rindik khas Bali, prosesi melukat bersama pemangku setempat sebelum loncatan perdana, hingga pertunjukan tari barong yang diiringi ensambel baleganjur.

Baca Juga:   Ketua DPRD Badung Anom Gumanti Dorong Porsenijar 2026 Cetak Generasi Berprestasi dan Berkarakter

Pennisi mengaku sangat antusias bisa kembali ke Pulau Dewata. Atlet permanen Red Bull Cliff Diving asal Brisbane itu menyebut Bali selalu memiliki tempat spesial baginya. “Saya sangat antusias. Bali sangat spesial. Dulu saya pernah ke sini dan setiap liburan selalu menarik dan indah,” ungkapnya.

Pennisi bukan nama baru di dunia cliff diving internasional. Lahir pada 26 November 1998, ia mulai menekuni olahraga ini pada 2017 sebelum debut di World Series Mostar tahun 2018 saat masih berusia 19 tahun. Kariernya terus berkembang hingga meraih podium pertama pada 2021 dan finis di posisi ketiga klasemen akhir musim 2023.

Meski sempat mengalami penurunan performa pada 2024, Pennisi bangkit di musim 2025 dengan meraih posisi runner-up di Mostar dan kembali mengamankan status atlet permanen Red Bull Cliff Diving World Series 2026. Di luar kompetisi, ia juga aktif sebagai show diver dan pelatih selam untuk membina atlet-atlet muda.

Baca Juga:   Baby J Asia Tour 2026 Tiba di Jakarta 22 Mei, Bawa Sensasi Musik Klub Dunia

Menurut Pennisi, cliff diving bukan hanya soal keberanian melompat dari tebing tinggi. Para atlet harus menjalani latihan dari berbagai ketinggian untuk mematangkan teknik sekaligus mempersiapkan fisik menghadapi kecepatan jatuh ke air yang sangat tinggi. Menjaga kondisi tubuh diakuinya menjadi prioritas utama dalam olahraga ekstrem tersebut. Konsistensi dan kemampuan menghindari cedera dinilai jauh lebih penting dibanding sekadar banyaknya jumlah lompatan.

Perhatian publik juga tertuju kepada atlet wildcard asal Britania Raya, Aidan Heslop. Atlet kelahiran 18 April 2002 itu dikenal sebagai juara termuda dalam sejarah Red Bull Cliff Diving World Series. Heslop mulai terjun ke dunia cliff diving sejak 2010 dan menjalani debut World Series di Polignano a Mare Italia pada 2018 saat baru berusia 16 tahun. Setelah dua kali finis sebagai runner-up pada 2022 dan 2023, ia akhirnya mencapai puncak karier dengan menjuarai Red Bull Cliff Diving World Series sekaligus World Aquatics Championships 2024.

Namun pada 2025, Heslop harus absen sepanjang musim akibat operasi punggung. Kini, tepat 12 bulan setelah operasi, ia kembali tampil di Bali sebagai wildcard untuk memulai comeback-nya.

Baca Juga:   Menembus Batas di Ombak Kuta: Kisah Surfer Tunarungu Rayakan Semangat Kartini

“Ketika mendengar Bali diumumkan sebagai lokasi Red Bull Cliff Diving World Series, saya langsung sangat antusias. Saya sebenarnya pernah berlibur ke Bali sebelumnya, tetapi saat itu sedang dalam masa pemulihan cedera, jadi belum sempat merasakan langsung bagaimana lokasi unik di Bali untuk cliff diving,” ujar Heslop.

Meski masih dalam proses pemulihan cedera, Heslop mengaku terkesan dengan keindahan lokasi kompetisi di Nusa Penida. Menurutnya, Bali sejatinya diproyeksikan menjadi salah satu lokasi bersejarah dalam dunia cliff diving, termasuk kemungkinan melakukan loncatan dari atas pohon yang belum pernah dilakukan sebelumnya. “Harusnya ini menjadi sejarah pertama cliff diving melompat dari atas pohon. Namun sayang karena kondisi belum memungkinkan,” katanya.

Menurut Heslop, tantangan terbesar di Bali bukan hanya soal ketinggian, tetapi juga presisi saat melakukan pendaratan di laut agar tetap berada di titik aman yang telah ditentukan. Ia juga menyoroti karakter tebing di Broken Beach yang berbeda dibanding venue lain di dunia. Pijakan tebing di Bali dinilai lebih curam sehingga para atlet harus melakukan adaptasi khusus sebelum bertanding.

“Pijakan cliff tidak selandai lokasi lainnya. Kami menaruh barang dan menentukan arah pijakan untuk beradaptasi dengan karakter tebing di Bali,” tutupnya. (BC5)