balibercerita.com
Pura Sumur Kembar terletak di Lingkungan Penginuman, Kelurahan Gilimanuk. Lokasinya sekitar 1,4 kilometer atau 2 menit berkendara ke arah barat dari Pura Tirta Segara Rupek, Gilimanuk. Hanya ada plang nama kecil di pinggir Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk yang menunjukkan arah menuju pura.
Dari jalan raya, masuk ke arah selatan menyusuri jalan tanah dalam hutan. Jalannya hanya selebar kurang dari 3 meter. Meskipun mobil masih bisa masuk, namun di beberapa titik tidak bisa berpapasan. Di samping kiri dan kanan hanya ada pepohonan besar dan tanaman liar lainnya.
Pura Sumur Kembar merupakan sebuah sumur kuno peninggalan masa lampau. Letak pura ini berada di Alas Cekik, Gilimanuk. Seperti namanya, Sumur Kembar, di pura ini ada dua buah sumur kembar yang diistilahkan lanang atau laki-laki dan wadon atau perempuan.
Menariknya, lokasi pura ternyata diapit oleh dua bekas setra (kuburan) masa lalu yang kini bentuknya sudah lapang dan berupa semak belukar. Lokasinya yang berada di tengah hutan, jauh dari keramaian, akan memberikan kesan angker bagi mereka yang pertama kali menjejakkan kaki di sana.
Menurut penuturan Pemangku Sumur Kembar, Putu Darmawa, pembangunan sumur kembar sendiri belum diketahui persis angka tahunnya. Namun dari penuturan orang tua pendahulunya, sumur tersebut sudah ada sejak zaman Belanda. Dalam artian, sumur itu merupakan peninggalan masa penjajahan Belanda.
Sumur tersebut kerap disalahgunakan karena diidentikkan dengan tempat pesugihan. Stigma ini masih ada sampai sekarang. Hal itu dengan tegas dibantah oleh Mangku Putu, karena pangelukatan pada dasarnya adalah tempat memohon pembersihan jasmani dan rohani. Ia pun sangat menyayangkan adanya anggapan bahwa Pura Sumur Kembar tempat mencari pesugihan atau pengasihan. Tiap ada yang bersembahyang di tempat ini, ia selalu menekankan bahwa Pura Sumur Kembar adalah tempat suci sehingga tidak boleh disalahgunakan.
Air suci di Pura Sumur Kembar disebut Tirta Jaya Kesuma. Untuk sumur lanang berada di sebelah kiri pura dan diyakini tempat berstananya Ida Panembahan Senopati Ingaloga. Sementara, sumur wadon yang berada di sisi kanan dipercaya sebagai stana Dewi Purba Sari, Dewi Gendring Manik, dan Dewi Ayu Petir.
Selain dua palinggih tersebut, juga terdapat palinggih Sabda Palon, Ibu Ratu Sapuh Jagat dan Bunda Ratu, Ratu Ayu Roro Wilis, serta Ki Sentanu sebagai pangelingsir area pura. Pujawali pura ini berbarengan dengan di Petilasan Mbah Temon, yaitu 1 Suro.
Umat meyakini, dengan malukat di sumur tersebut dapat memohon pembersihan diri agar segala rintangan dapat dihindari sehingga mampu mencapai tujuan hidup yang baik, apakah itu menyangkut jodoh, kesuksesan, maupun kesejahteraan. Ini jelas berbeda prinsipnya dengan pesugihan.
Malukat lebih pada aspek pembersihan diri lahir batin. Dalam ajaran agama Hindu, malukat tujuannya mengikis kekotoran batin agar jalan seseorang lebih terbuka dalam hal memahami aspek-aspek ketuhanan. Dengan begitu, hidup kita akan jadi lebih baik. Kita akan memiliki tujuan hidup sejati sekaligus cara yang baik untuk mencapainya.
Sebaliknya, pesugihan lebih bermakna mencapai tujuan dengan cara instan. Konteksnya hanya bermain pada kepentingan duniawi dan sifatnya sesaat. Orang yang melakoninya bisa dikatakan tersesat karena tak mau memaknai kehidupan sebagai sebuah perjuangan. Ketika ingin sejahtera, seharusnya rajin bekerja. Bukan malah mengambil jalan pintas meminta kepada makhluk-makhluk yang derajatnya sejatinya di bawah manusia itu sendiri.
Bagi yang ingin malukat, selain pejati adapun sarana yang dianjurkan dibawa berupa bunga cempaka putih, bunga mawar merah, bunga sandat, bunga teratai biru, teratai putih, dan bungkak nyuh gadang atau kelapa muda hijau. Sarana tersebut dibawa oleh masing-masing orang yang ingin malukat.
Di dalam area pura ada tempat pemandian yang dibedakan untuk laki-laki dan perempuan. Sebelum malukat, kita bisa mandi di tempat tersebut. Tapi, kita harus menimba air dari kedua sumur dan mengisinya di tempat yang telah disediakan. Setelah itu baru kemudian kita di-lukat oleh pemangku di depan sumur.
Selain umat Hindu dari Bali, banyak pula umat lain dari Pulau Jawa yang mempercayai keberadaan pura tersebut dan melakukan pangelukatan. Kebanyakan umat atau umat lain yang tangkil ke Pura Sumur Kembar datang pada malam hari. Sebab mereka merasa lebih khusuk dan tidak diganggu kera yang ada dalam kawasan pura. Selain malukat di sumur kembar, umat juga dapat malukat ke segara (pantai). Sebab, lokasi pura sangat dekat dengan pantai. (BC13)















