balibercerita.com –
Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Denpasar akhirnya memiliki seorang dosen dengan jabatan akademik tertinggi guru besar atau profesor tetap. Penantian panjang selama seperempat abad perguruan tinggi kesehatan plat merah itu berdiri dipecahkan oleh Prof. Dr. Komang Ayu Henny Achjar, SKM., M.Kep., Sp.Kom.
Prof. Henny dikukuhkan bersama lima guru besar lainnya di lingkungan kampus Poltekkes Kemenkes di berbagai provinsi di Indonesia. Pengukuhan berlangsung di Jakarta oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kementerian Kesehatan, pada 5 Maret 2026.
Guru besar bidang kepakaran Keperawatan Komunitas ini pun diberikan kehormatan menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular: Tantangan Terkini dan Rekomendasi Kebijakan untuk Intervensi Berkelanjutan” pada sidang terbuka senat serangkaian Dies Natalis ke-25 Poltekkes Kemenkes Denpasar, Jumat (17/4).
Akademisi kelahiran Lumajang ini, memaparkan orasi fokus utama program penyakit tidak menular meliputi pencegahan, deteksi dini dan pengendalian. Pencegahan diimplementasikan berupa edukasi serta mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk mengurangi faktor risiko penyakit tidak menular. Deteksi dini meliputi skrining kesehatan rutin pada tahap awal. Sementara, pengendalian diwujudkan dengan memberikan layanan kepada penderita penyakit tidak menular dan untuk mencegah komplikasi.
Disampaikan Prof Henny pada orasi ilmiah, ada beberapa target implementasi dan rekomendasi kebijakan bagi provinsi hingga kabupaten, layanan kesehatan, dan tingkat komunitas untuk mengendalikan penyakit tidak menular. Diantaranya memasukkan program-program penanganan penyakit tidak menular ke dalam peraturan daerah, baik peraturan gubernur dan bupati/wali kota, penguatan puskesmas, sistem rujukan data, serta penguatan banjar dan desa adat.
“Khusus di Bali sebenarnya ada kearifan lokal yang bisa dimaksimalkan, yakni budaya banjar. Dari banjar bisa dilakukan berbagai intervensi yang menyasar sekaa teruna-teruni, pecalang, ibu-ibu PKK dan warga adat,” jelas Prof. Henny saat dikonfirmasi, Sabtu (18/4).
Untuk diketahui, sejumlah jabatan strategis pernah diemban Prof. Henny, mulai dari Sekretaris Jurusan Keperawatan, Kepala Bidang Keperawatan Komunitas, Kepala UPK SDMK Denpasar dan Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Poltekkes Kemenkes Denpasar. Selama menjadi dosen, Prof. Henny tercatat belasan kali menjalankan tugas nasional. Untuk luar negeri, Prof Henny pernah ditugaskan sebagai pelatih internasional untuk tenaga kesehatan di Port Villa Republic of Vanuatu Pasific Selatan serta short course elderly di Gunma University of Health and Welfare, Jepang. Ia juga berperan sebagai pembimbing kompetisi tingkat nasional dan internasional dan sebagai reviewer penelitian dan pengabmas nasional.
Kapasitasnya makin teruji setelah menjadi pembicara di dalam dan luar negeri. Publikasi karyanya tembus di jurnal internasional bereputasi Scopus hingga jurnal nasional terakreditasi Sinta, 28 karya buku ber ISBN telah dihasilkan. Memperoleh Hibah penelitian dan pengabmas nasional serta Hibah penelitian internasional dari Unicef Hibah penelitian Global Fund TB WHO at UNICEF tahun 2026.
Produk inovasi yang dihasilkan berupa Smart Shoes and Sandals (3S), deteksi dini risiko luka diabetes melalui suhu dan kelembaban kaki serta One Portable Health & Culture Kit, One Hamlet (1PK1H). Satu alat kesehatan deteksi dini PTM di @ banjar. Berkat dedikasinya, Prof. Henny dipercaya menduduki Ketua Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI) Bali 2014-2019, lanjut dipercaya sebagai Pembina IPKKI Bali. Kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi dilaksanakan dengan baik sehingga ia berhasil finish di puncak pendakian akademik tertinggi seorang dosen.
Prof. Henny lahir di Lumajang, 21 Maret 1966. Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat ia raih di Universitas Airlangga di tahun 1994. Magister Keperawatan dan Spesialis Keperawatan Komunitas ia dapatkan di Universitas Indonesia tahun 2006-2007, kemudian meraih doktor Keperawatan tahun 2019 juga di Universitas Indonesia, Jakarta. (BC18)

















