Tantangan yang dirasakan oleh Yan Mendra dalam mementaskan Wayang Gedog cukup dimaklumi oleh Jero Mangku Dalang Karsa. Secara sekilas, Wayang Gedog atau Wayang Lemah memang terlihat sepele. Namun sesungguhnya, Wayang Lemah membutuhkan konsentrasi sangat tinggi karena kental dengan nilai magis dan religius, sehingga dalam pementasannya membutuhkan konsentrasi lebih dari seorang dalang. “Seperti ketika nyapuh leger atau mebayuh oton, dalam pangeruwatan itu membutuhkan tenaga batin yang lebih,” paparnya.
Hal tersebut juga diamini Jero Mangku Dalang Limo. Ia menambahkan, Wayang Kelir cenderung memiliki sifat entertain atau sebagai hiburan. Karena unsur di dalamnya lebih menekankan kepuasan penonton. Baik dari segi alur ceritra yang dibawakan, lelucon atau nilai keseruan di kala mementaskan ceritra Calonarang maupun Balian Batur.
Keberhasilan Yayasan SBSD melahirkan seorang dalang melalui Pasraman Yasa Kirti Stiti Dharma (YKSD), menjadi hal yang sangat disyukuri oleh Ida Mpu Bhujangga Dharma Daksa Kusuma yang sekaligus sebagai Pembina Yayasan SBSD. Ida Mpu menyebut bahwa hal itu notabene sejalan dengan tujuan yayasan ataupun pasraman, yakni membangkitkan kesenian sebagai bagian dari pelestarian budaya tradisional.
Karenanya, Ida Mpu mengaku akan terus mendorong agar pelatihan wayang ataupun kesenian lainnya dapat dilakukan secara berkelanjutan. Hal itu untuk mencetak dalang-dalang dari generasi muda yang kelak akan menjadi tonggak pelestari seni, budaya dan agama. “Tidak tertutup kemungkinan, nantinya yayasan menggelar semacam festival, guna membangkitkan semangat berkompetisi,” imbuhnya.
Untuk diketahui, setelah melewati tantangan dalam pategar, Dalang Cetu sudah melakukan dua kali pentas membawakan wayang lemah dalam upacara pujawali dan metatah massal yang dilakukan di Geriya Agung Manik Sari Asak Karangasem, dan pecaruan ngresigana lebur sangsa. Dalam waktu beberapa bulan ke depan, Dalang Cetu sudah mendapatkan undangan untuk mementaskan Wayang Lemah dan Wayang Kelir. (BC5)













