Lestarikan Budaya Bali, Yayasan SBSD Cetak Dalang Muda Seni Pewayangan Tradisional 

0
494
Wayang
Wayan Mendra alias Dalang Cetu saat mementaskan Wayang Lemah. (ist)

Semarapura, balibercerita.com – 

Di tengah arus globalisasi dan pengaruh kesenian modern dari luar, seni pewayangan Bali semakin tergerus. Ketertarikan generasi muda untuk menggeluti profesi sebagai dalang mengalami penurunan. Padahal wayang Bali bukan hanya terkait seni dan budaya, melainkan juga ritual keagamaan maupun penanaman nilai-nilai kemanusiaan.

Berkaca dari kondisi tersebut, Yayasan Sraddha Bhakti Stiti Dharma (SBSD) Griya Agung, Desa Tohpati, Klungkung, terus berupaya melestarikan seni dan budaya bernapaskan agama Hindu. Salah satu kontribusi nyata yang mereka lakukan adalah dengan melahirkan seorang dalang wayang kulit tradisional Bali, bernama Wayan Mahendra. Dalang muda kelahiran Agustus 1998 ini masih duduk di SMA kelas dua kejar paket C. 

Mahendra mengaku memiliki ketertarikan terhadap wayang sejak dirinya mempelajari wirama dalam buku Baratayuda. Melalui yayasan, ia kemudian ditempa oleh dua dalang berpengalaman yakni Jero Mangku Karsa Celagi dan Jero Mangku Dalang Limo Tarunyan. Berkat ketekunan dan gemblengan yayasan SDBD, Mahendra kemudian berhasil melewati ujian pawayangan yang disebut dengan istilah pategar baik dalam pementasan Wayang Kelir maupun Wayang Gedog (Wayang Lemah). 

Baca Juga:   Mapinton Ida Batara di Jimbaran, Iring-iringan Mapeed Diperkirakan Hingga 6 Kilometer

Ia kemudian mendapat julukan Dalang Cetu yang merupakan singkatan dari Cetana Tuhu. “Saya menyampaikan terimakasih kepada dua pelatih saya, yaitu Jero Mangku Dalang Karsa dan Jero Mangku Dalang Limo yang dengan sabar dan telaten membimbing saya. Pencapaian yang saya dapatkan ini tidak lepas dari kontribusi kedua sosok guru saya ini, dan tentunya peran yayasan yang menggembleng saya,” terangnya.

Baca Juga:   Pura Beji Sangsit, Bukti Kecerdasan Leluhur Orang Bali

Ia menerangkan, Jero Mangku Dalang Karsa selama ini banyak memberikan pelajaran berharga terkait pakem, tinggi rendah, dan penyesuaian suara para tokoh. Terutama empat tokoh punakawan, yakni Sangut, Delem, Werdah, dan Tualen. Sementara, Jero Mangku Dalang Limo memberikan tuntunan tentang penekanan dari segi cepala, tetikes, dan pesiat wayang. Selama ini kegiatan yang ditekuninya tidak sampai mengganggu aktivitas sekolah  karena Yayasan SDBD membantu melakukan penyesuaian jadwal dengan rutitasnya.

Dari kedua jenis pementasan wayang yang ia telah kuasai, pemuda kelahiran Banjar Payuk, Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli ini, mengaku merasakan lebih banyak tantangan untuk ngayah mementaskan Wayang Gedog. Sebab cerita yang dibawakan dalam wayang gedong harus sesuai dengan upacara yang dilaksanakan, ditambah dengan tarian wayang yang lebih menguras konsentrasi. Mengingat semua itu terikat dengan japa mantra, mulai dari berangkat nge-wayang, tiba di lokasi, posisi duduk yang seusai, sampai dengan melakukan pementasan di panggung genah ngewayang dan ngarga tirta. 

Baca Juga:   Sekda Adi Arnawa Buka Pawai Ogoh-ogoh PAUD Desa Ayunan

“Astungkara setelah dilukat, dilakukan upacara pawintenan dalang oleh Ida Mpu Bujangga Dharma Dhaksa Kusuma, japa mantra sesuai dengan dharma pedalangan bisa meresap dan saya maknai,” ungkapnya sembari menceritakan kisah latihannya yang digembleng hampir setiap hari oleh Ida Mpu yang juga memiliki riwayat sebagai seorang dalang, utamanya terkait dengan nilai magis dari Wayang Lemah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini