Negara, balibercerita.com —
Desa Yehembang Kangin di Kabupaten Jembrana menjadi saksi langkah nyata kolaborasi pelestarian hutan dan penguatan ekonomi desa melalui Program Perhutanan Sosial yang didukung oleh Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Ngurah Rai. Dalam kegiatan bertajuk Ngeruak Green Cliff pada Senin (14/7), masyarakat desa bersama pemerintah dan Pertamina menyatukan komitmen untuk membangun kembali Green Cliff sebagai ikon wisata alam berbasis pemberdayaan lokal.
Tak sekadar seremoni adat pembukaan lahan, kegiatan ngeruak ini menandai dimulainya perjalanan transformasi desa melalui pengelolaan hutan yang mengedepankan nilai kearifan lokal dan keberlanjutan. Program unggulan “Sri Wana Lestari” yang diperkenalkan pada momen ini mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan kegiatan ekonomi berbasis masyarakat, seperti agroforestri, budidaya lebah, pengelolaan air bersih, hingga jasa lingkungan yang berakar dari nilai budaya Bali.
Ahad Rahedi selaku Area Manager Comm, Rel & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus menyampaikan bahwa melalui program Perhutanan Sosial ini pihaknya ingin menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi masyarakat tidak harus berjalan terpisah. Keduanya justru dapat saling memperkuat ketika dijalankan dengan pendekatan kolaboratif, berbasis potensi lokal, dan menghormati kearifan budaya setempat.
“Program ini membuktikan bahwa keberlanjutan bisa dimulai dari desa, oleh masyarakat sendiri. Ini bagian dari komitmen kami dalam menciptakan transisi energi yang inklusif melalui pendekatan sosial dan lingkungan,” ujar Ahad Rahedi.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur pimpinan daerah, termasuk Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, Ketua DPRD Jembrana Ni Made Sri Sutharmi, serta Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali I Made Rentin, yang mendukung penuh sinergi antara masyarakat, swasta, dan pemerintah dalam pengelolaan hutan lestari. Acara dimulai dengan kegiatan persembahyangan bersama yang dilakukan di Pura Ulun Desa Adat Yehembang Kangin.
Dalam sambutannya, Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan menyampaikan bahwa pembangunan Green Cliff akan bersinergi dengan kawasan Anjungan Cerdas Rambut Siwi. Ia menyampaikan terima kasih kepada AFT Ngurah Rai atas niat baik dan dukungannya terhadap masyarakat Desa Yehembang Kangin.
Kegiatan ini menjadi momentum nyata bahwa pengelolaan hutan berbasis masyarakat dapat diwujudkan melalui sinergi semua pihak demi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan berkelanjutan. “Kita harus mulai dengan doa dan niat tulus agar Green Cliff bisa berkembang. Pemerintah daerah siap memadukan kawasan ini sebagai bagian dari pariwisata lokal,” ucapnya.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui penandatanganan Surat Kesepakatan Bersama antara Pertamina AFT Ngurah Rai dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Jasa Lingkungan Banu Sejahtera–KTH Banu Giri Lestari. Kolaborasi ini mempertegas bahwa masyarakat menjadi penggerak utama dalam pengelolaan Green Cliff.
Agus Sugiyanto, Kepala UPTD KPH Bali Barat, menambahkan bahwa Desa Yehembang Kangin memiliki potensi yang luar biasa dan telah menunjukkan praktik baik dalam menjaga ekosistem dan sumber daya air. “Desa ini memiliki karakter penyayang lingkungan dan budaya, sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali,” ujarnya.
Ia mengapresiasi kepemimpinan Perbekel Desa Yehembang Kangin yang visioner dan dinilai berhasil menginventarisasi dan menyatukan berbagai sumber mata air, sehingga desa Yehembang Kangin memiliki air baku berlebih, air irigasi berlebih dan bahkan ada air dalam kemasan. Ia juga mengapresiasi komitmen AFT Ngurah Rai dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan merespons kebutuhan lokal.
Hal senada disampaikan AFT Manager Ngurah Rai, I Komang Susila Gosa, yang menekankan bahwa revitalisasi Green Cliff bukan hanya kegiatan simbolis. “Ini bukan sekadar seremoni, tetapi langkah awal menanam nilai. Green Cliff adalah simbol harapan bersama, dan Sri Wana Lestari merupakan program inovasi sosial dari, oleh, dan untuk masyarakat,” jelasnya.
I Made Rentin, Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Bali, dalam arahannya mengingatkan pentingnya sinergitas berbagai pihak untuk memastikan keberhasilan program perhutanan sosial. “Terima kasih kepada AFT Ngurah Rai atas wujud nyata kolaborasi luar biasa dengan pemerintah daerah, terlebih kepada masyarakat Desa Yehembang Kangin yang merasakan dampaknya langsung,” ucapnya.
Rangkaian kegiatan turut dimeriahkan dengan pameran produk UMKM hasil hutan bukan kayu (HHBK) dari KTH Banu Giri Lestari, serta penanaman pohon sarana upacara di Taman Gumi Banten, sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian tanaman lokal Bali sesuai Peraturan Gubernur Bali Nomor 29 Tahun 2020. (BC5)
















