
Tabanan, balibercerita.com –
Festival Jatiluwih hingga kini telah berlangsung sebanyak enam kali. Tahun ini festival yang digelar di area persawahan tersebut akan diselenggarakan selama dua hari, yakni 19-20 Juli 2025. Festival ini pun ditargetkan menggaet 7.000 wisatawan asing dan domestik.
Manajer DTW Jatiluwih, Ketut ‘Jhon’ Purna mengatakan, target kunjungan untuk Festival Jatiluwih yang ke-6 ini lebih kepada wisatawan domestik. Namun, tidak menutup kemungkinan juga dapat meningkatkan kunjungan wisatawan asing.
“Saat ini memang kunjungan tamu (domestik) ke Jatiluwih cuma 10 persen, itu juga fluktuasinya sangat tinggi. Sebenarnya festival ini lebih kita tunjukkan kepada wisatawan lokal, khususnya Bali. Tapi otomatis juga kita menyasar wisatawan nasional,” ujar Jhon, saat ditemui di sela-sela festival, Sabtu (19/7).
Dalam festival ini, pihaknya juga menerangkan, hampir 99 persen melibatkan masyarakat lokal dari Jatiluwih. Terlebih di festival yang berlangsung di tengah area sawah ini lebih mengangkat kearifan lokal. Wisatawan disuguhkan booth UMKM, atraksi budaya, musik, tarian termasuk tari maskot Jatiluwih, jantra tradisi, atraksi khas agraris seperti matekap (membajak sawah) hingga menangkap belut.
“Ada tarian maskot Jatiluwih yang bekerjasama dengan ISI Denpasar, yang kedua ada kostum Jatiluwih yang Dewi Sri dan Jatayu. Itulah nanti yang kita jadikan maskot dan icon wisata Jatiluwih,” ungkapnya.
Selain itu, ada patung Dewi Sri setinggi 5 meter yang menonjol di festival. Jhon mengaku, hal ini sebagai penghormatan untuk Dewi Sri. Patung tersebut pun dibuat dengan bahan alami selama hampir tiga bulan.
Melalui banyaknya atraksi hingga maskot Jatiluwih, Jhon berharap dapat meningkat kunjungan dalam dua hari festival. “Target kunjungan di hari pertama itu 3.000 kunjungan. Di hari kedua mudah-mudahan lebih dari itu dapat menjadi 4.000 kunjungan,” harapnya.
Sementara, Bupati Tabanan, I Komang Sanjaya menyatakan, festival ini sebagai ajang promosi yang menampilkan tradisi, budaya, dan kuliner tradisional asli Desa Jatiluwih. Bahkan, Desa Jatiluwih diakui sudah terkenal di seluruh dunia, sebagai destinasi wisata dengan nuansa alam pegunungan. Begitu juga keunikan tata letak sawahnya yang berpundak-pundak, serta sistem irigasi subak secara tradisional.
“Sudah ribuan tahun yang lalu diwariskan, sampai saat ini relevansi kita taat untuk menjaga, karena dipegang erat oleh hukum adat melalui awig-awig dan perarem,” ujar Sanjaya.
Untuk itu, Festival Jatiluwih ini diharapkan dapat berlangsung hingga sebulan penuh. Terlebih event tersebut telah berlangsung sebanyak enam kali. Bupati dua periode ini pun berharap mendapatkan dukungan dari Kementerian Pariwisata hingga jajarannya di Pemkab Tabanan.
“Kalau bisa satu minggu, dua minggu, bahkan satu bulan jadikan event. Kehidupan masyarakat Jatiluwih dari baru bangun, bercocok tanam, sampai kulinernya, memasaknya, jadikan destinasi. Sehingga benefitnya dirasakan dan didapat oleh masyarakat,” paparnya. (BC9)















