Gianyar, balibercerita.com –
Transformasi luar biasa terjadi di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang. Sebuah desa yang dulunya tertinggal dalam sektor pariwisata kini menjelma menjadi salah satu destinasi unggulan di Bali, berkat kolaborasi antara masyarakat, kreativitas, dan komitmen terhadap keberlanjutan.
Sejak ditetapkan sebagai desa pariwisata pada tahun 2017, Kedisan menghadapi tantangan besar. “Awalnya tidak ada potensi pariwisata yang menonjol karena kalah pamor dari Ubud dan Tampaksiring,” ujar Kepala Desa Kedisan, Dewa Ketut Raka saat bertatap muka dengan jajaran manajemen The Nusa Dua pada Selasa (28/7).
Sejak menjabat sebagai kepala desa di tahun 2018, ia terus mendorong konsep pariwisata berkelanjutan. Titik balik dimulai pada 2019, ketika lokasi yang dulunya digunakan sebagai tempat pembuangan sampah disulap menjadi objek wisata air terjun Hulu Petanu.
“Kami ubah tempat yang kotor menjadi daya tarik wisata. Sekarang menjadi sumber pendapatan desa yang signifikan,” jelasnya.
Hasilnya luar biasa. pendapatan asli desa (PAD) Kedisan melonjak hingga 700 persen. Dari hanya Rp12 juta per tahun, kini Desa Kedisan mampu menghasilkan pendapatan kotor mencapai Rp600 juta per bulan.
Tak hanya sektor pariwisata, Dewa Ketut Raka juga mendorong pertanian organik sebagai fondasi ketahanan pangan desa. Inisiatif petani Kedisan Kaja menjadi pionir dalam terobosan pertanian organik yang kini mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa. Ia berharap agar para pekaseh dan petani dari wilayah lain dapat mengikuti jejak ini.
“Kita bermusuhan dengan sampah plastik, tapi bersahabat dengan organik. Saya siap mendukung siapa pun yang ingin mengembangkan pertanian organik,” tegasnya.
Namun, ia juga menyayangkan kebijakan dari pemerintah pusat yang masih menyalurkan pupuk kimia, yang dianggap tidak sejalan dengan program organik di daerah. “Kalau kita tanda tangan, petani marah. Tapi kalau tidak, ini program pusat. Harus ada koneksi antara atas dan bawah,” keluhnya.
Dewa Ketut Raka berharap ke depan pemerintah pusat dapat menyelaraskan kebijakan dengan semangat pertanian berkelanjutan di desa-desa. Baginya, masa depan desa bukan hanya tentang wisata, tapi juga kembali menghargai tanah dan alam lewat pertanian organik yang dulu dikenalnya sejak kecil. (BC5)
















