Mangupura, balibercerita.com –
Desa Ungasan di Kecamatan Kuta Selatan, Badung semakin menegaskan diri sebagai pionir desa mandiri dalam menciptakan ekonomi sirkular berbasis pengelolaan sampah. Melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Karisma, desa ini tak hanya mengolah sampah rumah tangga, tetapi juga mengubahnya menjadi produk bernilai ekonomis, seperti kompos, arang batok kelapa, hingga paving block berbahan dasar abu incinerator.
Terbaru, TPST Karisma yang terletak di Banjar Santhi Karya, Jalan Goa Gong, menambah tiga unit mesin baru dengan total anggaran lebih dari Rp1,5 miliar dari APBDes. Mesin-mesin tersebut terdiri dari satu unit incinerator, satu mesin pencacah organik, dan satu mesin press paving block, sebagai bagian dari upaya memperluas kapasitas dan mendorong prinsip zero waste.
Ketua LPM sekaligus pengelola TPST Karisma, I Made Nuada Arsana menyatakan, penambahan mesin ini bukan hanya bertujuan menambah volume pengolahan yang kini ditargetkan mampu menyerap 20 ton sampah per hari, tapi juga membuka peluang baru dalam pemanfaatan limbah secara menyeluruh.
“Kami ingin memastikan bahwa tidak ada bagian dari sampah yang terbuang sia-sia. Batok kelapa, misalnya, sekarang bisa jadi kompos, kokopit, atau arang. Bahkan abu hasil pembakaran incinerator pun kami olah menjadi paving block,” ungkap Nuada.
Paving block hasil limbah ini dicetak menggunakan mesin khusus dan direncanakan tidak hanya untuk kebutuhan internal TPST. Jika kualitasnya terbukti baik, produksi akan ditingkatkan hingga 200 unit per hari dan dipasarkan ke masyarakat. Inovasi ini menjadi salah satu bentuk nyata dari pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal.
“Sampah bukan lagi beban, tapi sumber daya. Kami sedang membangun model ekonomi baru di tingkat desa,” tambah Nuada.
Saat ini TPST Karisma melayani warga dengan sistem iuran mulai Rp50 ribu per rumah tangga. Meskipun belum melibatkan sektor usaha besar seperti hotel, TPST Karisma telah membuktikan kapasitasnya dalam mengelola sekitar 20 ton sampah per hari dari wilayah permukiman.
Dukungan terhadap model ini datang dari berbagai pihak. Perbekel Ungasan, I Made Kari menyebut, program pengelolaan sampah bukan sekadar urusan teknis, tapi bagian dari visi besar membangun Desa Hijau Mandiri. “Kami ingin membuktikan bahwa desa bisa menjadi pemimpin dalam solusi hijau. Inovasi paving block ini bukan hanya soal teknologi, tapi bentuk tanggung jawab sosial dan komitmen terhadap generasi masa depan,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Camat Kuta Selatan, Ketut Gede Arta, yang menilai langkah Desa Ungasan sebagai percontohan transformasi desa dalam isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. “Ungasan adalah bukti bahwa kepemimpinan lokal yang progresif mampu menjawab tantangan global. Ini bukan sekadar proyek desa, tapi bisa jadi model pembangunan hijau untuk Bali,” ujarnya.
Dengan pendekatan ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah yang terintegrasi, Desa Ungasan perlahan menegaskan posisinya sebagai role model pengembangan desa berbasis inovasi dan kemandirian. (BC5)



















