Digelar Jelang Nyepi, Ini Rahasia Spiritual di Balik Ritual Melasti yang Jarang Diketahui

0
14
Melasti
Prosesi melasti yang digelar salah satu desa adat di Bali. (ist)

balibercerita.com –
Menjelang hari suci Nyepi Tahun Baru Caka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026, umat Hindu di Bali melaksanakan rangkaian upacara melasti, sebuah ritual sakral yang menjadi bagian penting dalam rangkaian menuju pelaksanaan Catur Brata Panyepian. Melasti merupakan ajaran tattwa yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur sebagai tahapan penyucian diri sebelum memasuki pelaksanaan Catur Brata Panyepian.

Dalam prosesi ini, umat Hindu mengarak pralingga Ida Batara menuju sumber air suci seperti laut, danau, sungai, maupun sumber mata air, yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual untuk menetralisir kekotoran serta mengembalikan keseimbangan alam semesta. Penjelasan tersebut termuat dalam Lontar Aji Swamandala dan Lontar Sundarigama, yang menjelaskan bahwa ritual ini merupakan bagian dari ajaran suci yang menuntun manusia menuju keseimbangan hidup.

Baca Juga:   Ketua DPRD Badung Hadiri Upacara Pamahayu Jagat di Pantai Seseh

Ajaran tersebut mengandung nilai dualisme yang pada akhirnya menuju harmoni, sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, yakni hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, serta manusia dengan sesama. Pelaksanaan Melasti juga disesuaikan dengan konsep desa kala patra, yaitu mempertimbangkan tempat, waktu, dan kondisi masyarakat setempat, sehingga setiap daerah di Bali dapat memiliki tata cara pelaksanaan yang sedikit berbeda tanpa menghilangkan esensi kesuciannya.

Dalam berbagai sastra Hindu disebutkan bahwa sebelum menjalankan Catur Brata Penyepian, umat terlebih dahulu melakukan proses penyucian. Oleh karena itu, melasti bukan sekadar prosesi iring-iringan menuju laut atau sumber air, tetapi merupakan simbol pembersihan total, baik secara sekala maupun niskala, dari diri manusia.

Baca Juga:   Aturan Perjalanan Dilonggarkan, Minat Tirta Yatra ke Jawa Timur Meningkat

Sulinggih, Ida Rsi Bhagawan Smerthi Kusuma Wijaya Sebali menjelaskan bahwa tujuan utama melasti adalah “angamet sarining amerta ring samudra”, yakni mengambil sari kehidupan atau amerta yang secara spiritual diyakini berada di lautan atau samudra. Menurutnya, dalam prosesi tersebut umat juga memohon kepada Sang Hyang Baruna, penguasa lautan, agar dianugerahi tirta sanjiwani sebagai sumber kehidupan dan kesucian. Tirta ini dipercaya mampu memberikan kekuatan spiritual bagi umat dalam menjalani kehidupan serta memasuki tahun baru Saka dengan keadaan suci.

Baca Juga:   Ritual Nangluk Merana di Desa Adat Kuta Menarik Perhatian Wisatawan

“Melalui melasti, umat memohon tirta kehidupan agar layak dan sah saat menjalankan Catur Brata Panyepian. Tujuannya agar manusia mampu menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatan,” jelasnya.

Dengan demikian, melasti memiliki makna yang sangat mendalam, bukan hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai momentum introspeksi diri. Melalui penyucian tersebut, umat Hindu diharapkan dapat memasuki hari raya Nyepi dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, serta kesiapan menjalankan Catur Brata Panyepian sebagai wujud pengendalian diri dan upaya mencapai keseimbangan hidup. (BC18)